Seperti halnya desain interior dan fashion, warna tidak sekedar aksesoris. Warna adalah juga penanda zaman, saksi dari perjalanan suatu peradaban. Hampir setiap daerah menghasilkan proses pewarnaan berbeda-beda tergantung sumber daya yang tersedia saat itu.

Warna dinding telah bersama kita selama lebih dari 20 ribu tahun. Ini terbukti dari ditemukannya beberapa lukisan gua beserta artefak kuno lainnya. Warna inipun banyak digunakan orang Mesir kuno, dan dianggap memiliki unsur magis untuk menyembuhkan suatu penyakit. Pada 400 dan 600 SM, Yunani dan Romawi memperkenalkan teknik pewarnaan menggunakan pernis.

Salah satu penelitian tentang warna yang paling awal dilakukan oleh Plato. Dia menemukan bahwa dengan teknik mencampur dua warna akan menghasilkan warna ketiga yang berbeda, dan hal ini telah mengubah teknik pembuatan warna.

Warna-Warni Warna

Sebelumnya, lukisan-lukisan gua terdahulu dibuat menggunakan teknik oksidasi besi. Orang Mesir kuno sudah mengembangkan cat dari bahan pigmen yang berasal dari unsur tanah (kuning, oranye, dan merah). Orang Roma membuat warna ungu dari unsur kerang. Zat pewarna merah masakan (cochineal red), ditemukan pertama kali oleh suku Aztec Indian, dibuat dari kumbang betina cochineal. Untuk satu pon ekstrak warna merah dibutuhkan sekitar satu juta serangga. Warna merah tersebut diperkenalkan ke Eropa oleh orang Spanyol pada 1500. Kemudian India memperkenalkan warna kuning yang dibuat dari air seni sapi dicampur dengan lumpur dan diangkut ke London untuk proses pemurnian.

Cat terdiri atas pigmen warna, bahan pengikat (binder), dan pengencer (thinner) yang sudah dibuat pada 5000 tahun lalu. Sebelum abad ke-19, istilah cat hanya diterapkan pada warna jenis minyak, yang bahan pengikatnya disebut distemper. Pada 1000 SM, cat dan pernis dibuat dari getah pohon akasia. Sebelum abad ke-16, warna pigmen sebagian besar berasal dari zat warna yang alami.

Pada abad ke-17, kebutuhan white lead (timah putih) di Belanda mulai meningkat dan berusaha menurunkan biaya melalui penemuan the stack proses. Semua cat timah putih dicampur kapur, lalu dimasukkan ke dalam cat undercoat, sedangkan timbal murninya disisakan untuk finish coats (cat akhir).

Pada 1856, pewarna sintetis pertama Mauvine, telah dibuat oleh Henry Perkins dari linseed oil. Dan kemudian diapun menyadari bahwa bahan pewarna bisa dibuat secara sintetis dengan biaya yang lebih ekonomis. Dan sejak saat itulah liseed oil (minyak biji rami) mulai dipoduksi secara masal. Mereka juga telah berhasil membuat pigmen dari unsur zinc oxide, dan menyebutnya sebagai cat putih.

Pada 1880,berhasil mengembangkan formula cat yang kualitasnya melebihi yang ada saat itu. Sejak itulah cat emulsi dibuat berdasarkan formula yang sama, diproduksi, dan dipasarkan sebagai "oil bound distempers". Pada 1880, cat telah tersedia dalam kemasan kaleng, dalam berbagai warna pilihan, dan telah diekspor ke seluruh penjuru dunia.