Walikota Surabaya Tri Rismaharini adalah sebuah anomali. Dia tidak memulai perubahan dari sektor ekonomi atau pendidikan, tapi memulainya dari penataan taman. Awalnya, saat ia mulai menjabat pada 2010, banyak yang skeptis, karena dia bukan politisi dengan akar kuat. Apalagi saat ia mulai menata Taman Bungkul. Orang menganggap itu hanya make-up, penataan bagian permukaan yang tidak menyentuh permasalahan mendasar masyarakat, baik dari bidang ekonomi maupun budaya. Kurang lebih dianggap sebagai pencitraan politik.

Tapi, anggapan itu salah. Risma terbukti bisa mengubah Surabaya secara keseluruhan lewat taman. Ia tidak hanya berhasil mengubah Surabaya yang kumuh menjadi indah, tapi juga mengubah pola pikir dan budaya masyarakat Surabaya akan kotanya. Tentu, akhirnya bukan hanya taman yang dia perbaiki. Birokrasi dan budaya para pejabat di bawahnya juga ia benahi habis-habisan.

Tak heran jika Surabaya diganjar berbagai penghargaan. Di antaranya empat kali piala Adipura Kencana berturut-turut (2011-2014) untuk kategori kota metropolitan, serta Adipura Paripurna pada 2016; kota dengan partisipasi masyarakat terbaik se-Asia Pasifik (2012) versi Citynet; Future Government Awards 2013; Taman Bungkul meraih penghargaan The 2013 Asian Townscape Award dari PBB sebagai taman terbaik se-Asia;

Rismaharini sendiri dinobatkan sebagai Mayor of the Month pada Februari 2014; setahun kemudian ia didapuk sebagai wali kota terbaik ketiga di dunia versi World City Mayors Foundation; pada 2015 juga ia masuk dalam jajaran 50 tokoh berpengaruh di dunia versi majalah Fortune bersama dengan tokoh-tokoh lain seperti CEO Facebook Mark Zuckerberg, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan lainnya.

Berikut ini penuturan Tri Rismaharini kepada kami tentang alasan di balik apa yang selama ini dia lakukan:

***

Orang selalu ngomong bahwa semua harus dimulai dari sektor ekonomi. Teorinya begitu. Tapi, lewat taman yang kami buat, kita justru bisa melihat kembali apa tujuan awal kota itu dibangun. Pertama, masyarakat kota harus senang tinggal di kota itu. Alasannya macam-macam, bisa karenanyaman, bersih, atau biaya hidup di sana murah.Kedua, kota itu harus punya competitiveness, alat agar kota inibisa berkompetisi.

Ketiga, taman bukan sekadar untuk keindahan, tapi taman itu tempat masyarakat bisa berinteraksi. Konsep ini membedakan aku dengan penata kota lain.Saya ingin tidak ada gapkomunikasi antara orang kaya dengan orang miskin, si hitam dengan si putih, anak muda denganorang tua dan balita. Itulah yang terjadi di taman kita, semua lapisan umur bisabertemu.

Hal itu akhirnya menjembatani apa yang sebelumnya saya lihat. Sebelumnya saya melihat ada jurang komunikasi antargenerasi. Kalau hal itu dibiarkan, anak muda,orang tua,anak kecil, akan jalan sendiri-sendiri.

Kalau (perbedaan generasi) ini disegregasi atau dipisah, mereka tidak akan pernah ketemu. Anak muda bisa tidak hormat pada orang tua. Sebaliknya kalau mereka dilebur dalam satu ruang, dipertemukan, akan muncul kesadaran, “Oh ya, aku harus berbagi di sini.”

Jadi, menjadikan taman sebagai faktor pengubah bukan saya lakukan karena saya ahli pertamanan.Aku baca buku masalah psikologi perkotaan dan punya buku-buku soal itu.Aku lihat, penyebab anak muda suka berantem karena tidak respek satu dengan lainnya. Tidak ada rasa kita ini sama, rasa saling menghormati.

Tentu, kita harus memberi banyak fasilitas agar mereka mau datang. Karena anak muda tidak mau sekadar dikasih taman, makanya saya kasih free wi-fi. Lansia butuh senam, pijat refleksi, sedangkan anak-anak butuh bermain, maka semua disediakan.

Itu baru soal meleburkan antargenerasi. Untuk meleburkan antar strata sosial, maka tempat itu harus gratis. Kalau ada tempat harus berbayar, ini akan memisahkan lagi antara si kaya dan miskin. Taman menjadi salah satu alat untuk mengatasi kesenjangan itu.

Titik awal pembuktian teori ini saya terapkan di Taman Bungkul.Keberhasilan di Taman Bungkul itu meyakinkanku, jadi ternyata asumsiku betul. Oleh karena itu, ┬ásetelah itu aku bikin lebih banyak taman.Sekarang kalau anak muda Surabaya ditanya dalam survey, ‘Mau nongkrong ke mana?’Mereka akan menjawab, “Ke taman.” Padahal dulu mana mau mereka ke taman. Maunya ke kafe.

Efek lainnya,adalah jauh berkurangnya tawuran anak-anak muda. Bahkan bisa dikatakanrelatiftidak ada di Surabaya.Coba kalau anak-anak muda tidak diberi saluran untuk releaseenergi mereka lewat taman tempat olahraga, ya berantem terus. Karena mereka tidak punya tempat untuk mengeluarkan atau menyalurkan ekspresi.

Anak-anakSurabayakini lebih mengerti tentang hak dan kewajibannya terhadap fasilitas kota, termasuk taman. Taman kami ini tidak ada pagar pembatas, tapi tidak ada yang menginjak-injak. Memang duluaku marah, tapi itu sudah berapa tahun yang lalu (pada 2014, Risma marah karena Taman Bungkul rusak terinjak-injak oleh pengunjung acara sebuah produk es krim). Mereka akhirnya tahu tanggungjawab untuk menjaga taman.

Ditambah lagi wargaku makin sehat, usia angka harapan hidup naik. Tingkat stress warga Surabaya berkurang (Kota Surabaya mendapat nilai terbaik Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari sektor Angka Harapan Hidup di Jawa Timur yaitu sebesar 73,87 pada tahun 2016).

Amati warga Surabaya kalau berkumpul di car free day, bandingkan dengan warga kota-kota lainnya, tingkat kegembiraan mereka tampak lebih tinggi. Lebih lepas. Sekarang mereka kalau macet tidak ada yang klakson-klakson. Padahal, dulu terkenal tempramental. Artinya, tingkat  stres mereka turun.