Teknologi selalu memegang peranan penting dalam perkembangan toilet di dunia. Pengolahan sanitasi modern sempat diterapkan  di permukiman metropolis pertama dunia, Mohenjo-daro (2500 SM). Sayang, peradaban bangsa di Pakistan ini terkubur dan menghilang. Hal itu membuat manusia harus mengulang kembali proses penemuan sanitasi modern. Perlu waktu hampir 5000 tahun hinga Inggris mulai memperbaiki saluran air bawah tanah pada tahun 1865. Proses pembelajaran ini memakan korban, karena perbaikan ini dilakukan setelah wabah kolera--penyakit paling mematikan saat itu--telah  menjangkiti kota ini hingga tiga kali.

Selain wabah kolera, perubahan toilet dipicu oleh ditemukannya mesin uap yang kemudian memunculkan revolusi industri. Tahun 1760, Inggris memasuki revolusi industri yang menyebabkan ribuan orang pindah ke kota untuk bekerja di pabrik dan tinggal dalam hunian vertikal dengan sanitasi yang buruk.

Kotoran biasanya diletakkan dalam wadah (pispot) dan saat penuh, mereka akan membuangnya ke luar, sangat kotor dan tidak higienisnya kota di Inggris terutama London saat itu.

Sebenarnya, jauh sebelum itu, pada 1596  Sir  John Harington telah menemukan kloset flush. Berbentuk bejana dengan tangki air di atasnya. Kloset temuan  Sir John dibuat dua prototype produk untuknya dan Ratu Elizabeth 1.  Sayangnya kloset temuan Sir John masih mengeluarkan bau karena wadah penyimpanannya statis, sehingga  pada 1738 J.F. Brandel menciptakan kloset siram dengan sistem katup.

Temuan kloset paling sempurna adalah ciptaan Alexander Cumming tahun 1775 dengan penambahan model pipa melengkung penahan air, untuk meminimalisir bau.

Saat revolusi industri berlangsung, lahan pertanian berubah menjadi pabrik  dari pemintalan pakaian hingga peleburan logam. Logam sangat dimuliakan saat itu, sebagai material yang tahan lama dan murah. Gaya hidup masyarakat pun semakin praktis, sehingga timbullah berbagai penemuan terbaru dalam dunia sanitair. Salah satunya adalah mengganti westafel dari porselen menjadi menggunakan material logam (seng) yang awet, anti pecah dan lebih modern.

Di masa ini bathtub juga telah ditemukan oleh John Michael Kohler. Sebagai pemilik baru Sheboygan Union Iron and Steel Foundry, pabrik yang memproduksi perkakas dari besi cor dan baja bagi petani di Wisconsin, pengecoran pabrik furnitur dan berbagi ornamen besi. John berekperimen  dengan memanaskannya besi hingga 1.700 derajat Fahrenheit dan melapisinya dengan bubuk enamel. Produk itu dinamakan  palung kuda yang dilengkapi dengan empat kaki. Inilah prototype sebagai bathtub pertama di dunia. Produk ini menjadi titik awal keberhasilan Kohler sebagai perusahaan yang berhubungan dengan air. Tak hanya itu, Kohler juga sebagai pemimpin dalam bidang desain dapur dan kamar mandi.

Saat ini teknologi banyak digunakan untuk membuat toilet lebih ramah lingkungan. Misalnya, mencari alternatif untuk tisu toilet. Kertas toilet gulung ini bukanlah penemuan baru, usianya sudah  140 tahun karena ditemukan tahun 1878 oleh Scoot Paper Company dari USA dan langsung populer di seluruh dunia. Kendati modern dan praktis, penggunaan kertas gulung toilet  semakin tidak relevan.

Saat suhu mulai memanas, karena tipisnya lapisan ozon dan hilangnya hutan sebagai penyuplai oksigen dunia, kertas gulung toilet  menjadi salah satu penyebab hutan dunia semakin menipis. Total 1 milyar gulung kertas toilet terpakai setiap hari. Dengan perbandingan 1 gulung kertas toilet  menghabiskan 67,5 kilogram kayu, 140.6 liter air, 1,3 KWH listrik dan  zat kimia yang berbahaya seperti klorins, sulfur dan kalsium karbonat untuk memurnikannya.

Sudah saatnya kita kembali menggunakan air untuk membersihkan diri dengan lebih pintar dan cerdas. Teknologi sanitair semakin berkembang dengan penambahan fungsi penghemat air.  Toto terinspirasi pada kebiasaan orang Jepang yang peduli kebersihan dengan mengembangkan produk yang melibatkan air,  Washlet sejak tahun 1980 dan berhasil menjual 30 juta unit  hingga awal 2011.

Roca, produk sanitari asal Spanyol, merupakan brand yang memakai teknologi untuk lingkungan hidup. Eco-friendly technologies. “Komitmen kami pada pelestarian lingkungan hidup memacu kami untuk mengembangkan solusi untuk menjaga air dan energi,” demikian komitmen dari mereka.

Roca, misalnya, membuat Flushfree Urinal, seuah urinoir yang tidak menggunakan air atau listrik. Meski demikian, urinoir ini higenis dan tidak akan mengeluarkan bau. Roca juga membuat teknologi W+W yang memungkinkan air yang telah digunakan bisa disaring (reuse) untuk kepentingan tertentu, misalnya flush toilet.