Menurut Lea Azis, ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), pria kelahiran Solo, 6 September 1943 ini satu dari 12 sosok di belakang berdirinya HDII bersama Abendanu Moeljono, Atty Mansjurdin, Deniarty Zaenuddin, Farouk Kamal, Fred Haradiran, Hoemar Tjokrodiatmo, Lakhsmi Hadi,  Naning Adiwoso, Nila Hariyadi, Sapti Hoemar, dan Sharmi Ranti. “Kebetulan saat 1981, saya menghadiri World Design Congress ke II di Helsinki, Finlandia, kesempatan bertemu dengan tokoh desain global, sehingga saya berjanji kepada rekan di Jakarta untuk mempersiapkan dan memperjuangkan asosiasi yang akan diresmikan dan bisa diterima sebagai anggota dalam forum internasional tersebut,” kata Solichin.

Minat menjadi seorang desainer interior ternyata bukanlah tujuan dari Solichin saat itu.  “Saya mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB) bukan karena ingin belajar desain interior tetapi karena mendengar ITB membuka jurusan baru yang sementara disebut jurusan Industrial Design atau sekarang resmi dinamakan Desain Produk Industri,” cerita Solichin.

Sesuai dengan kurikulum lama, pada 1960-an setelah menyelesaikan pedidikan dasar bersama selama empat semester atau dua tahun lamanya, Solichin dan mahasiswa lainnya harus memilih jurusannya masing-masing dan program studi yang tersedia saat itu hanya desain grafik yang sekarang disebut Desain Komunikasi Visual dan Desain Interior. “Jadilah saya belajar desain interior hingga selesai,” imbuhnya.

Solichin mulai menjadi staf pengajar pada 1973. “Sebagai salah satu staf pengajar, saya turut membantu mempersiapkan pembukaan jurusan desain produk yang kemudian turut menjadi salah satu pengajarnya,” ujar Solichin yang hingga 1980 masih mencurahkan perhatiannya ke kedua jurusan, Desain Interior dan Desain Produk. “Desain interior akhirnya menjadi profesi pilihan hidup saya, dan semakin saya yakini setelah magang selama empat tahun di studio ID di bawah bimbingan Prof. Widagdo dan menjadi asisten selama setahun dari Dr. Ernst Graf, dosen tamu dari Austria,” ujar Solichin.

Selain aktif sebagai staf pengajar, Solichin juga tercatat sebagai dewan komisaris PT Atelier 6 International, Jakarta sebelum akhirnya mengambil ahli kepemilikan PT Atelier Interior dan menamakan kembali sebagai PT SGA Design. Selain itu bersama dengan para desainer muda, ia membentuk Collaborated Designers. Beberapa proyek instritutional, commercial, hospitality, pernah dikerjakannya bersama grup arsitek maupun secara independen.

Kontribusi lainnya yang berhubungan dengan Solichin dalam pengembangan desain menjadi nara sumber dan konsultan bagi berbagai lembaga pemerintah Indonesia seperti menjadi konsultan desain pada berbagai pameran yang diadakan di dalam maupun di luar negeri dan penyususnan Pedoman Standarisasi Usaha Perhotelan di Indonesia pada 1979-2004. Dan mewakili HDII sebagai anggota perumus Standarisasi Kompetensi dan Sertifikasi pelaku jasa pariwisata dan pedoman standarisasi bagi industri perhotelan di Indonesia mulai 2004 hingga saat ini.