Pria pendiam kelahiran 27 Desember 1928 ini dikenal senang menggambar sejak kecil. Dia bukan anak yang aktif bermain bersama teman-teman sebaya. Jika diajak berjalan-jalan, ia lebih suka memperhatikan lingkungan sekelilingnya. Pada usia 18 tahun, Soejoedi bergabung dengan kesatuan Tentara Pelajar. Walau senantiasa bertutur kata dengan halus dan santun, Soejoedi adalah pribadi yang keras hati. Ia turut terpanggil untuk berjuang secara fisik demi mempertahankan kemerdekaan. Bahkan ia sempat menjabat Kepala Staf Tentara Pelajar di Solo. Namun situasi yang tidak menentu di masa-masa perjuangan ini kelak mempengaruhi kesehatan jasmaninya.

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 1947, Soejoedi melanjutkan pendidikan di ITB(Institut Teknologi Bandung) yang dulu masih menjadi bagian Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Teknik dari Universitas Indonesia. Ia merupakan salah satu mahasiswa pertama Bagian Arsitektur, ketika pendidikan ahli menggambar dipecah dua menjadi bidang Seni Rupa dan bidang Bangunan (bauwkunde afdeeling).

Bidang Bangunan ini kemudian diubah menjadi Bagian Arsitektur ketika  Prof. Ir. Vincent Rogers van Romondt menjadi ketuanya. Kurikulum kala itu masih berorientasi pada mengatasi masalah konstruksi bangunan. Untuk materi yang berkaitan dengan arsitektur terbatas hanya pada pengolahan tampak luar dan menggubah wujud bangunan.

Soejoedi yang dari kecil sudah hebat dalam menggambar menjadi salah satu mahasiswa yang menonjol. Van Romondt menyadari kelebihan Soejoedi tersebut dan memberi perhatian besar. Sampai-sampai beberapa mahasiswa menyebut dia sebagai ‘anak angkat Profesor van Romondt’. Sang profesor ini juga yang kemudian mempromosikan Soejoedi untuk mendapat beasiswa ke Eropa demi memperluas wawasannya. Soejoedi sudah diproyeksikan menggantikan Van Romondt sebagai kerua Bagian Arsitektur kelak.

Masjid Istiqlal

Tahun 1954 Soejoedi mendapat beasiswa ke Prancis dari L’ecole des Beaux-Arts, Paris. Karena ada kurikulum baru di sekolah tersebut, gelar pendidikan yang sudah dia dapat di Bandung tidak diakui. Statusnya dianggap sebagai mahasiswa baru. Tidak terlalu terkesan dengan hal itu, Soejoedi kemudian pindah ke Technische Hoogeschool di Delft, Belanda, dengan bantuan Van Romondt yang juga lulusan perguruan tinggi ternama tersebut. Soejoedi kemudian diterima sebagai mahasiswa tingkat empat di Delft. Ia berkumpul dengan para mahasiswa Indonesia di Delft dan mengikuti forum diskusi yang mereka buat, ATAP, termasuk kunjungan ke Skandinavia yang turut mempengaruhi karya-karya Soejoedi kemudian.

Salah satu karya Soejoedi yang paling dikenal adalah gedung CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) yang kini menjadi gedung MPR/DPR. Gedung ini awalnya digagas oleh Soekarno sebagai tempat penyelenggaraan pertemuan politik negara-negara yang ia kategorikan sebagai kekuatan baru dunia.

Soejoedi mengikuti sayembara desain gedung tersebut sebagai Staf Ahli Bidang Arsitektur di Departemen PUTL (Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik). Atap bangunan yang pernah dinaiki beramai-ramai oleh para mahasiswa yang berdemo pada 1998  ini ternyata dirancang oleh Soejoedi dan tim pada saat-saat terakhir menjelang batas penyerahan karya sayembara.

Pemancangan tiang pertama dilakukan pada pertengahan April 1965. Karena perkembangan politik yang tidak menentu akibat peristiwa G30S PKI, proyek dihentikan. Proyek kembali dilanjutkan November 1966 dengan Soejoedi ditunjuk sebagai kepala proyek. Dia mengundurkan diri pada 1972 sebelum proyek gedung MPR/DPR benar-benar selesai.