Rumah tinggal karya Irianto Purnomohadi yang mengaburkan batasan ruang dalam dan ruang luar.
Villa Isola di Bandung karya Wolff Schoemaker pada 1933.

Perbaikan ekonomi Indonesia pada era 1980-an hasil dari booming minyak melahirkan kelas masyarakat baru, kelas menengah. Mereka kemudian menjadi keluarga muda yang tidak mampu untuk membeli rumah mewah, namun juga tidak mau tinggal di rumah sederhana. Bukan hanya bangunan rumahnya, kualitas lingkungan juga penting bagi mereka.

Pada periode itu, perumahan-perumahan baru tumbuh di mana-mana. Para pengembang menangkap lahirnya kelas menengah ini. Sayangnya, hal tersebut tidak diikuti dengan kebaruan dalam hal desain arsitektur. Hal yang juga terjadi bukan hanya pada skala perumahan, tapi juga skala yang lebih besar.

Proses pencarian arsitektur Indonesia modern memang mengalir dari modernisme ala Silaban dan Soejoedi, lalu berkembang ke arah ‘tuntutan’ untuk kembali menampilkan identitas bangsa Indonesia. Sayangnya, hal ini dilakukan dengan "mentah" sehingga yang terlihat hanya penambahan elemen-elemen tradisional pada bangunan.

Karya-karya arsitektur pada waktu itu dirasa tidak sehat oleh sekelompok mahasiswa arsitektur. Mereka berkumpul, berdiskusi, saling mengkritik, dan mengadakan pameran untuk menyuarakan penjelajahan desain mereka. Kelompok mahasiswa itu kemudian dikenal dengan nama Arsitek Muda Indonesia (AMI)

Rumah tinggal karya Antara Architect dengan jendela-jendela kecil yang terinspirasi Notre Dame du Haut karya Le Corbusier.
Rumah tinggal karya Antara Architect dengan jendela-jendela kecil yang terinspirasi Notre Dame du Haut karya Le Corbusier.

Menurut Irianto Purnomohadi, salah satu penggagas AMI, dorongan tersebut lahir dari beberapa kondisi yang mempengaruhi lingkungan akademis. Para mahasiswa arsitektur mulai mengidolakan arsitek-arsitek seperti Michael Graves dan kritikus arsitektur Charles Jencks karena pemikiran-pemikiran mereka terasa lebih segar dibanding perkembangan arsitektur di Indonesia kala itu yang disebut Irianto datar-datar saja.

Untungnya, ada sejumlah akademisi yang cukup memberi inspirasi. Peran dosen-dosen senior seperti Yuswadi Saliya, Zaenuddin Kartadiwiria di Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Gunawan Tjahjono, Budi Sukada, dan Kusdaya Sukada di Universitas Indonesia (UI), semakin memperbesar minat mahasiswa terhadap hal-hal baru dalam arsitektur.

Sulit untuk membatasi siapa saja arsitek yang tergabung dalam AMI karena gairah tersebut dengan cepat disambut rekan-rekan mahasiswa di kampus-kampus lain, seolah semua sudah menunggu momentum ini. Kelompok-keompok kecil di masing-masing angkatan berbaur menjadi kelompok yang lebih besar dalam pameran Visi Ars ‘87 dan Pameran Lorong ITB pada 1987.

Orang-orang yang sama masih terus melanjutkan semangat perubahan ini ketika mereka lulus dan menjadi arsitek profesional atau meneruskan studi di luar negeri.

Nama AMI baru "resmi" disematkan kepada para arsitek muda ini pada acara “Pameran Arsitektur Prospektif – Karya Arsitek muda Indonesia” yang diselenggarakan di Jakarta Design Center pada 1990. Menurut Irianto, nama Arsitek Muda Indonesia awalnya dipilih untuk menjelaskan siapa yang berpameran. Nama tersebut akhirnya melekat kepada para peserta pameran itu hingga sekarang.

AMI berkembang dengan masukan, kritikan, dan tantangan-tantangan. Arsitek senior Adhi Moersid pernah mengatakan bahwa karya-karya yang dipamerkan AMI pada Pameran Arsitektur Prospektif tidak membumi. Mungkin terkait dengan kecenderungan untuk menampilkan ‘identitas bangsa Indonesia’. Atau Romo Mangun yang pada pameran selanjutnya menyatakan bahwa tidak ada terobosan makna baru dari unsur-unsur lama.

Meski masih dalam proses pencarian pada arsitektur baru untuk Indonesia, AMI sudah sukses menggairahkan arsitektur kepada masyarakat umum melalui karya-karya mereka yang sebenarnya sudah tidak muda lagi itu.

Peran media-media arsitektur di masa lalu turut membantu proses tersebut. Sementara arsitek-arsitek masa kini sudah punya media sendiri untuk dipublikasi melalu media sosial mereka yang bisa memancing respons dan diskusi yang dengan lebih masif dan deras, bahkan dari seluruh dunia. Jika kemunculan AMI (hampir tiga dekade lalu) dianggap sebagai sebuah titik pencapaian dalam penjelajahan arsitektur Indonesia modern, maka kita sedang menantikan penerima tongkat estafer berikutnya muncul.