Jika diyakini lantai merah terakota yang ada di The Manor House di Nederburg, Afrika Selatan, berasal dari Batavia, maka pengaruh besar yang dibawa era kolonial Belanda terhadap pengetahuan masyarakat Indonesia kala itu sudah lebih maju. Terutama dalam pembuatan lantai rumah atau perkantoran. Tegel menjadi penutup lantai yang banyak digunakan pada masa itu, meski industri keramik sudah ada sejak Hindia Belanda “Het Keramische Laboratorium” pada 1922 di Bandung. Balai ini hanya difungsikan sebagai pusat penelitian bahan bangunan seperti bata, genteng, saluran air, air, peralatan rumah tangga, dekorasi ruang, dan lainnya yang terbuat dari tanah liat.

Lantai tegel menjadi industri rumahan yang tersebar luas, terutama di daerah-daerah yang memiliki sumber bahan baku utama yaitu tanah liat. Proses pembuatan yang didominasi kreativitas tangan, menjadi salah satu sebab mudahnya masyarakat menyerap keahlian ini. Yogyakarta menjadi salah satu daerah penghasil tegel yang banyak menyuplai bangunan kerajaan atau keraton di pulau Jawa hingga ke beberapa daerah lainnya. Menurut Putu Aneth, Desainer Interior yang juga memiliki bisnis tegel dengan merek TegelSoeryo, keunikan yang dimiliki tegel dengan warna maupun motifnya yang berkesan abadi. Tegel antik kala itu digunakan masyarakat lokal untuk menunjukkan status ekonominya, karena hanya dipakai para bangsawan atau rumah-rumah tradisional dengan status sosial masyarakat yang tinggi.

Seiring industri properti yang bangkit di era 70-an hingga pertengahan 90-an, sebelum krisis ekonomi 1998, penutup lantai tegel mengalami pasang surut. Terutama keberadaan material alternatif seperti teraso dan keramik. Kedua jenis material ini menggerus industri tegel, selain itu juga pengaruh geopolitik yang terjadi saat itu. Tegel kembali mendapatkan apresiasi di era 2000-an, kelahirannya dibarengi keberadaan arsitek dan desainer interior yang makin mendapat tempat di hati masyarakat. Profesi ini menjadi penting dalam memvisualisasikan imajinasi pemilik rumah untuk mendapatkan hunian yang sesuai selera.

Kembalinya si Jadoel sebagai elemen lantai dibarengi pesatnya industri desain yang dipelopori arsitek dan desainer interior. Peran serta keduanya melahirkan beragam desain yang kembali memanfaatkan tegel. Pada rumah dengan konsep tradisional, lantai ini menjadi material utama. Terutama rumah-rumah konsep Jawa (Joglo). Pada rumah modern, tegel digunakan sebagai aksen dekoratif lantai dan dinding. Terutama tegel dengan motif-motif tertentu.

Tegel menginisiasi konsep eklektik, etnik, vintage, meski tidak menutup gaya lainnya menggunakan tegel sebagai aksen. Dengan ukuran 20x20 centimeter, tegel menunjukkan eksistensinya sebagai material ‘jadul’ yang diterima disetiap generasi. Namun, industri yang sebagian besar prosesnya handmade membatasi ketersediaan lantai dalam jumlah banyak. Bahkan pemesanan harus dilakukan 3 hingga 6 bulan. Apalagi jika kebutuhannya lebih banyak untuk menutup permukaan lantai yang lebih luas. Kembalinya si Jadoel memberikan khasanah desain yang lebih luas, sehingga memberi identitas kelokalan yang kuat, tanpa melulu mengadopsi desain luar.

Fenomena ini dibidik industri keramik seiring properti yang membaik sejak 2013 hingga 2016, serta kemajuan teknologi digital printing. Banyaknya masyarakat yang menginginkan motif tegel jadul, melahirkan ide untuk mengaplikasikannya pada keramik. Motif-motif yang ada dan tersebar ‘ditiru’ untuk kemudian diaplikasi pada permukaan keramik. Hasilnya jauh lebih sempurna dan menarik, meski sebagian merasa ada yang kehilangan pesonanya.  Motif tegel pada keramik dapat dibuat secara masal dan memiliki warna yang konsisten. 

Setiap kepingan keramik motif jadoel dibuat sealami mungkin, secara warna jauh lebih terlihat. Namun menurut Aneth, kekuatan utama tegel jadoel terletak pada motif dan warnanya yang tidak seragam. Pembuatannya yang handmade melahirkan produk yang tidak mungkin sama meski dibuat oleh orang yang sama. Bahkan motif yang dihasilkan tidak sempurna, artinya ada warna yang bisa memudar disatu sisi, sedangkan sisi lainnya berwarna sempurna.

Teknologi juga melahirkan inovasi motif yang lebih berani. Keramik motif batik, batu alam, marmer, kayu, hingga motif papan kayu bekas. Keberagaaman desain ini dibarengi dengan ukuran yang lebih variatif, keramik tidak lagi ukuran yang memiliki 4 sisi yang sama, 30 x30 hingga 80x80. Tapi bisa berbentuk persegi panjang dengan 20x40 hingga 20x100.

Masuk di awal 2017 hingga sekarang, teknologi penutup lantai keramik mengalami loncatan tinggi, tidak hanya sebatas motif, namun menghasilkan keramik ukuran besar dan ekstra besar. Jika sebelum 2016 keramik dengan ukuran 60 x 60 paling banyak diminati. Kini varian produknya lebih besar hingga 80 x 80 hingga 100 x 100. Tidak puas pada ukuran yang ada, inovasi kembali dimunculkan produsen penutup lantai dengan ukuran slab 3,2 x 1,6 meter.

Ukuran yang besar ini untuk membidik pasar premium yang mengidolakan batuan marmer. Terlebih harga batuan alami ini yang terus meroket dari tahun ke tahun. Dengan segmen tersebut diharapkan penggunaan batuan alami yang kian terkikis di alam dapat tergantikan. Tidak hanya membidik pasar lantai dan dinding. Produk ini dapat digunakan sebagai kitchen top, meja kerja, area cuci piring, area wastafel, dan lainnya. Keunggulannya menyajikan permukaan tanpa nat. Karena bisa dibuat dalam ukuran yang sangat panjang.