Sudah 23 tahun Romo Mangun perkataan di atas, dan hingga hari ini kita masih berusaha mencari “konsep dan praktik beraksitektur kita”. Romo Mangun saat menerima The Ralph Erskine Award pada 1995. Dia dipilih oleh para arsitek Swedia yang diberi mandat oleh Ruth and Ralph Erskine Nordic Stipend Fund. Romo Mangun, menurut catatan yayasan tersebut, dipilih karena perannya mengembangkan pemukiman di pinggir Kali Code, Yogyakarta.

Arsitek yang juga rohaniawan itu tidak mencoba mengembangkan bangunan-bangunan yang ikonik seperti yang digagas oleh Ir Sukarno. Romo Mangun yakin, arsitektur Indonesia harus menjawab kebutuhan rakyat Indonesia. Dia merasa tidak perlu untuk “pamer”. Dia merasa konsep dan praktik yang tepat adalah yang benar-benar mengabdi pada rakyat banyak.

Masing-masing arsitek dan masa memiliki caranya sendiri dalam mencari konsep dan praktik berarsitektur seperti yang dikatakan oleh Romo Mangun. Karenanya, proses itu bukannya tidak ditemukan, tapi itu adalah sebuah proses yang tidak pernah selesai. Seperti juga “kita” dalam kata-kata Romo Mangun itu. Kita, Indonesia, tidak muncul begitu saja atau warisan dari nenek moyang, karena sebelum 1945 tidak ada Indonesia. Seperti juga Indonesia, arsitektur Indonesia adalah sebuah ikhtiar yang terus menerus dilakukan tiada henti.

Jika kita bicara tentang arsitektur Indonesia, berarti kita bicara tentang bentuk dan karya-karya arsitektur sejak kita merdeka tahun 1945 hingga saat ini, karena sebelum 1945 belum ada Indonesia. Namun arsitektur adalah sebuah proses yang dipengaruhi oleh masa-masa sebelumnya. Pengaruh arsitektur tradisional yang sangat beragam atau pengaruh kolonialisme selama ratusan tahun tentu turut berperan. Termasuk bagaimana
para arsitek Belanda di Hindia Belanda merespons iklim tropis atau mencoba menampilkan ciri tradisional ke dalamnya.

Hal itu dipicu oleh dua hal. Pertama, sekitar tahun 1900, orang Belanda diizinkan membawa istri mereka ke tanah jajahan. Hal ini mempengaruhi penataan ruang pada bangunan dan memunculkan penataan ruang dalam khas Belanda saat itu.

Kedua, satu tahun kemudian, dalam pidato di parlemen, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta mengatakan bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa bumiputera di Hindia Belanda melalui penerapan Trias van Deventer. Salah satunya adalah pendidikan bagi seluruh rakyat Hindia Belanda.

Dalam konteks pembentukan masyarakat ini, beberapa arsitek Belanda seperti Thomas Karsten, Henri MacLaine Pont, Charles Prosper Wolff Schoemaker, mencoba mendefinisikan dan membentuk konsep arsitektur Indonesia. Pemicu lainnya adalah kedatangan seorang arsitek profesional pertama ke Hindia Belanda pada 1905. Pieter Adriaan Jacobus Moojen, sang arsitek itu, mengkritik arsitektur neoklasik yang sudah ada di Hindia Belanda sejak awal abad ke-19 sebagai ‘tiruan neo-Hellenisme yang buruk’. Dia juga berbicara tentang pentingnya lokalitas seperti iklim, material lokal, dan kemampuan tenaga kerja yang tersedia.

Pada 1918, proyek THS (Technische Hoogeschool) Bandung dimulai dan dibuka dua tahun kemudian. MacLaine Pont, Albert Frederik Aalbers, dan Schoemaker menjadi pengajar arsitektur di sekolah tersebut, yang menjadi tempat mereka menyemaikan ide-ide tentang arsitektur Indonesia. Maclaine Pont juga merancang bangunan THS yang mencoba menerapkan ciri lokal melalui atapnya. Salah satu lulusan pertama dari sekolah yang sekarang ITB (Institut Teknologi Bandung) ini adalah Sukarno.

Para arsitek modernis di berbagai belahan dunia sudah menciptakan dunia-dunia baru sepanjang masa 1920-1940-an. Berbagai peristiwa arsitektur di dunia Barat tersebut, serta ide tentang arsitektur Indonesia yang digaungkan para pengajar Belanda di THS, menjadi faktor yang mengisi imajinasi Soekarno untuk menghadirkan dunia baru Indonesia, yang lepas dari pengaruh kolonialisme. Ia memilih paham Modernisme untuk menciptakan inovasi arsitektur, fisik bangunan dan ruang kota yang baru, yang menurutnya bisa menuntun perubahan mentalitas masyarakat. Kebetulan Jakarta sebagai ibukota yang terpilih menjadi ‘facade’-nya.

Soekarno mengorbankan romantisme sejarah rumahnya sendiri dengan merobohkannya, lalu mendirikan bangunan yang menampilkan ciri modernisme Indonesia baru yaitu Gedung Pola, tempat gagasan dan rencana pembangunan Indonesia dimasyarakatkan melalui pameran-pameran.

“Gedung ini adalah salah satu gedung paling kontroversial di masa Demokrasi Terpimpin. Gedung ini terletak pada persil rumah tempat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan. Pembangunan gedung ini mengambil tidak hanya persil Pegangsaan Timur tempat berdirinya rumah milik Soekarno tapi juga membebaskan beberapa rumah lain di samping kiri dan kanan,” tulis Setiadi Sopandi.

Wacana arsitektur Indonesia yang modern ini cocok dengan bahasa arsitektur yang dibuat biro Frederich Silaban dan rekannya Hans Groenewegen pada 1950-an. Silaban juga peka dengan kondisi tropis yang membuat desainnya sering menggunakan selasar lebar atau overstek yang bisa melindungi bangunan dari matahari serta tampias hujan.

stadion senayan
Lokasi stadion utama Bung Karno yang dikerjakan oleh para arsitek Uni Soviet, dipindahkan ke Senayan atas masukan dari Friedrich Silaban.

Hubungan harmonis Silaban-Sukarno terlihat dalam proyek arsitektur yang lebih besar dan monumental di Indonesia seperti Monumen Nasional (Monas), Gedung Bank Indonesia, Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata, Gedung Pola, hingga Masjid Istiqlal yang baru rampung ketika Soekarno telah tiada.

Ada yang mengatakan bahwa pendirian bangunan-bangunan monumental tidak tepat, karena dilakukan saat hampir seluruh rakyat Indonesia terpuruk dalam kemiskinan. “Visi Pak Karno itu sebenarnya bagus sekali. Dia buat Stadion Senayan, Istiqlal, Semanggi, dan jalan-jalan besar. Hanya masalahnya dulu kita baru merdeka. Mana punya uang untuk bangun perumahan rakyat? Kalau pun ada material-material yang bagus, ya digunakan untuk proyek-proyek tadi. Karena itu ada orang yang bilang Pak Karno sedang melakukan politik mercusuar,” kata Djauhari Sumintardja, arsitek senior dan kepala PDA.

Meski demikian, ada juga sisi positifnya. “Karena Indonesia bukan warisan, semua manusia Indonesia, yang kagum, yang kaget, dan yang malu sesudah melihat monumentalitas Jakarta, diharapkan untuk memikirkan betapa sulitnya memberi wujud pada bangsa dan negara yang pada dasarnya tidak berwujud,” tulis Abidin Kusno, profesor di Faculty of Environmental Studies Art History, Binghamton University, New York pada buku Tegang Bentang - Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia.

Tidak hanya bangunan monumental, Indonesia juga saat itu sedang membuat sesuatu yang berbeda pada rumah dan bangunan yang lebih kecil. Dalam kurun 1950-1960-an berkembang salah satu langgam arsitektur asli Indonesia yang dikenal dengan sebutan Arsitektur Jengki. Jengki sendiri diyakini berasal dari kata Yankee, atau Amerika Serikat. Gaya ini memang dikembangkan sebagai reaksi atas masuknya pengaruh Amerika setelah memudarnya pengaruh Belanda.

Ketika para arsitek Belanda keluar dari Indonesia pasca kemerdekaan, para ahli bangunan yang pernah menjadi asisten arsitek Belanda, berasitektur dengan cara mereka sendiri. “Menurut saya, bangunan-bangunan tahun 1950-an ini sama kayak musik dangdut, banyak elemen dari budaya luar dicampur dan disatukan hingga jadi ciri khas yang unik,” kata Tariq Khalil kepada Vice. Khalil adalah pembuat buku RETRONESIA: The Years of Building Dangerously, kumpulan fotografi rumah jengki di Indonesia.

Semangat anti kolonialisme tercermin pada bentuk-bentuk bangunan jengki unik. Kebanyakan bangunan jengki dibuat tidak simetris dengan ornamen dekorasi yang belum pernah dipakai sebelumnya. Bahkan langgam ini banyak dikembangkan oleh para tukang yang pernah bekerja dengan arsitek-arsitek Belanda.

Ketika kegiatan rancang-bangun pada masa itu lazim dikerjakan oleh aannemer (pemborong), pemerintah melalui Departemen Pekerjaan Umum mendeklarasikan berdirinya GAPERNAS (Gabungan Perusahaan Nasional). Hal itu memicu kekecewaan para arsitek yang cenderung lebih idealis dibanding pemborong, termasuk Frederich Silaban dan Soehartono Soesilo, arsitek yang diundang hadir pada deklarasi itu. Persitiwa inilah yang mengawali gagasan pembentukan organisasi profesi arsitek di Indonesia.

Tiga arsitek senior, Silaban,  Mohammad Soesilo, dan Liem Bwan Tjie, bersama 18 arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur ITB tahun 1958-59, memprakarsai dibentuknya lembaga persatuan arsitek di Indonesia, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pada September 1959 IAI lahir di Bandung sebagai lembaga tertinggi dalam dunia arsitektur profesional di Indonesia.

Ternyata perkembangan arsitektur di Tanah Air pada 1950-an tidak luput dari perhatian para mahasiswa arsitektur Indonesia yang bersekolah di Technische Hoogescool Delft, Belanda. Para mahasiswa ini membentuk forum diskusi yang bernama ATAP. Mereka mengadakan perjalanan ke Skandinavia untuk memperluas wawasan arsitektur mereka.

Kembali ke Indonesia di awal 1960-an, mereka membawa gagasan tentang fungsionalisme ala Skandinavia. Waktunya sangat tepat dengan periode Nation Building yang coba direalisasikan Sukarno dengan bangunan-bangunan modernnya.

Beberapa arsitek ATAP yang kemudia berperan besar dalam perkembangan arsitektur Indonesia adalah Sujudi, Suwondo B. Sutedjo, Bianpoen, Mustafa Pamuntjak, Han Awal. Nama terakhir adalah arsitek yang merancang kampus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta pada 1962-64. Rancangannya merespons keberadaan Jembatan Semanggi sebagai ‘monumen konstruksi’ karya Soetami, insinyur sipil lulusan ITB tahun 1956 yang pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum.

Satu lagi karya arsitek dari kelompok ATAP ini adalah gedung CONEFO yang sekarang menjadi gedung MPR/DPR. Dalam proyek di tahun 1964 itu, Sujudi mengajak Han Awal untuk berkolaborasi guna menghasilkan salah satu ikon arsitektur Indonesia. Sujudi juga merancang Kedutaan Besar Prancis dan Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta. Pengganti V.R. van Romondt sebagai kepala sekolah arsitektur pertama di Indonesia ini juga merancang Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Malaysia.

Beriringan dengan gencarnya pencarian arsitektur Indonesia yang modern pada masa itu, pemikiran akan lokalitas wilayah dari Karsten dan Macleine Pont juga diteruskan oleh van Romondt. Enam muridnya kemudian membentuk Atelier 6 pada 1968. Keenam mahasiswa itu juga pernah bekerja di bawah Sujudi dalam proyek CONEFO. Mereka adalah Yuswadi Saliya, Darmawan Prawirohardjo, Nurochman Sidharta, Iman Sunaryo, Robi Sularto, dan Adhi Moersid.

Penghadiran lokalitas, regionalisme, dan tradisi dalam arsitektur modern Indonesia kembali mengemuka. Tidak hanya enam orang itu, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya merupakan tokoh yang karyanya selalu mengakar pada tempatnya berada. Pertemuan Romo Mangun, demikian ia biasa dipanggil, dengan arsitektur Barat yang modern ketika ia kuliah di Aachen, justru membuka matanya tentang masalah nyata di negara berkembang seperti Indonesia.

Pada awal 1980-an, kemapanan arsitektur modern sedang ramai digugat oleh pemikiran arsitektur pasca modern yang dihadirkan oleh arsitek semacam Michael Graves dan Charles Jencks dengan bukunya The Language of Post-Modern Architecture. Sementara itu para mahasiswa arsitek di Indonesia kala itu justru merasakan perkembangan arsitektur di Indonesia berlangsung datar-datar saja, cenderung stagnan.

Di saat yang sama, sebenarnya Indonesia sedang mengalami booming ekonomi. Berkah minyak membuat perekonomian bergerak dan memunculkan banyak orang kaya baru. Merekalah yang kemudian menghuni perumahan elite yang baru muncul seperti Pondok Indah. Pengembangan kawasan baru ini tidak menstimulus perkembangan arsitektur. Bahkan cenderung mengekalkan kejumudan. Klien-klien baru itu menginginkan rumah-rumah berdesain kitsch, tiruan buruk dari rumah-rumah di Spanyol atau selatan Amerika Serikat. “Masa-masa 1970-1980-an akhir itu kan sebenarnya booming minyak. Perekonomian membaik. Banyak orang kaya baru. Tapi kok arsitekturnya begitu-begitu saja,” kata arsitek Irianto PH.

Beruntung para mahasiswa arsitektur di masa itu punya dosen-dosen yang membuka jalan dan pemikiran mereka seperti Yuswadi Saliya dan Zaenuddin Kartadiwira di ITB dan dosen-dosen muda Universitas Indonesia yang baru kembali dari program pasca sarjana di luar negeri seperti Gunawan Tjahjono, Budi Sukada dan Kusdaya Sukada.

“Kegalauan” anak muda zaman itu berbuah positif dengan lahirnya kelompok Arsitek Muda Indonesia (AMI). Isinya para mahasiswa arsitek dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang giat berdiskusi dan membangun budaya kritik soal arsitektur.

Pada masa millennial ini, karya-karya kelompok inilah yang turut mewarnai wajah arsitektur kontemporer Indonesia. Yori Antar, Irianto PH, Andra Matin, Adi Purnomo, Ahmad Noerzaman, Ranuwijaya, Sonny Sutanto, Bambang Eryudhawan, Boy Bhirawa, Achmad Tardiyana, Sardjono Sani, Marco Kusumawijaya, hanyalah sebagian nama dari kelompok ini.

Walau AMI telah mampu menghidupkan kegairahan masyarakat terhadap arsitektur, namun Achmad Tardiyana menilai dalam perjalanannya, AMI lebih banyak berkutat dengan persoalan penampakan arsitektur secara visual.