Perubahan budaya toilet kita dimulai dari Hotel Indonesia, salah satu proyek mercusuar Presiden Sukarno yang dibangun pada 1962 agar Jakarta terlihat menarik. Sebagai hotel bintang lima pertama di Indonesia, HI memberikan pandangan baru pada golongan menengah atas Indonesia tentang kloset dan toilet modern.

Gedung itu merupakan karya arsitek  pasangan suami istri asal Amerika Serikat, Wendy dan Abel Sorensen. Karenanya, gedung ini telah mengikuti standar hotel berbintang lima di Eropa dan Amerika, termasuk kloset duduk dengan penyemprot dan kertas toilet di kamar kecilnya. Dari sanalah timbul istilah WC kering yang akhirnya diikuti oleh hotel lain yang dioperasikan jaringan internasional. Bukan hanya itu, WC kering kemudian menjadi tren di rumah kelompok menengah atas Indonesia.

Tidak satu-dua kali interior hotel menjadi pijakan desain untuk rumah pribadi. Bahkan, perubahan interior rumah (termasuk juga toilet dan kamar mandinya) akibat invasi hotel berbintang, dapat mematikan budaya lokal. Setidaknya hal ini menjadi perhatian Liam Fitzpatrick, seorang jurnalis, penulis travel majalah Time.

Ia menghabiskan banyak waktu untuk menjelajahi hotel-hotel di berbagai negara. Ia merasa resah saat tidak menemukan perbedaan saat bangun pagi di Sydney, Manila, Singapura, atau Milan. Ia merasa desain interior hotel di manapun juga itu sama seragam. Pengalaman masuk ke kamar mandi dan buang air di Eropa atau Asia sama saja. Lalu, untuk apa orang berpergian?  Ia menuliskan pengalamannya ini dalam esai berjudul Vive la Difference yang diterbitkan pada 2007.

Baginya, interior hotel telah bertransformasi dalam keseragaman yang disebut sebagai penghancuran sense of place, merasakan sebuah tempat. Padahal, merasa ada di mana itu merupakan esensi penting dalam perjalanan.

Fitzpatrick adalah pengguna, bukan desainer. Ungkapan keresahannya itu akan menjadi pekerjaan rumah bagi para desainer yang selama ini bermain aman dengan menyamarakan keunikan tiap tempat, tidak  cerdas  merespons kebutuhan manusia secara tepat.

Sebagai tamu, kadang kita begitu kagum akan penataan interior hotel dan ingin memindahkannya ke dalam rumah sendiri. Kita melupakan pertanyaan mendasar, apakah desain ini cocok dengan kehidupan sehari-hari nantinya? Saat banyak hotel mengadopsi keterbukaan (kamar mandi dibiarkan terbuka dan memperlihatkan keindahan desain dari sanitair yang digunakan), kita tentu perlu bertanya apakah desain seperti ini layak dipindahkan ke dalam rumah?

Karena Hotel Indonesia juga, masyarakat Indonesia mulai mengenal tissue gulung toilet. Kebiasaan menggunakan kertas toilet ini memang diadopsi oleh banyak rumah tinggal, meski budaya bilas dengan air tidak bisa dihilangkan. Itulah mengapa, keduanya (kertas dan shower kecil) selalu tersedia di toilet kita.

Pertanyaannya, kenapa perubahan itu dimulai dari Hotel Indonesia? Bukankah Belanda mewariskan banyak bangunan, termasuk rumah mewah?

Betul. Tapi, masalahnya meski Belanda sebagai penjajah kerap memberikan pengaruh besar di Indonesia, tapi soal toilet, mereka yang tampaknya terpengaruh oleh pribumi. Hingga abad ke-19, Indonesia masih memanfaatkan sungai sebagai rantai  utama kehidupan. Sejarawan  Anthony Reid yang banyak meneliti kehidupan di Hindia Belanda dan terkenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara, mengatakan bahwa ketersediaan air yang melimpah  meniadakan kekhawatiran masyarakat akan sumber air yang menipis, dan mereka cenderung boros air.

Semua orang berbondong-bondong membuat rumah tidak jauh dari aliran sungai. Untuk memudahkan kecukupan air sehari-hari, masyarakat saat itu juga percaya bahwa membersihkan diri harus dengan air mengalir dari kepala lalu  membasuh seluruh badan. Bila jauh dari sungai, maka mereka akan  membuat lubang sumur lalu menampungnya dalam bak untuk kebutuhan sehari-hari dan lubang sangat dalam untuk menampung kotoran agar tidak menimbulkan bau tidak sedap.

Nah, budaya inilah yang kemudian diadopsi oleh orang Belanda di Indonesia. Bahkan budaya ini terbawa saat mereka pulang ke Belanda. Pulang bukanlah kata yang tepat, karena mereka sebenarnya lebih terbiasa dengan cara hidup di Hindia Belanda, termasuk budaya toilet, seperti berbilas dengan air atau memakai gayung saat mandi.

Di Hindia, mereka terbiasa mandi di rumah kecil atau paseban di atas sungai dengan menambahkan lantai terali dari kayu dan tangga  menuju ke sungai untuk mandi . Atau di daerah perkotaan seperti Batavia, beberapa rumah besar pejabat yang jauh dari sungai membangun kamar mandi di belakang rumah dengan dinding tertutup  atau setengah tertutup, tanpa atap dengan tahang (tong kayu) beserta gayung. Salah satu yang masih terlihat jelas berada  di halaman belakang rumah Reinier de Klerk di Jalan Gajah Mada (sekarang gedung Arsip Nasional).

Setelah sekian lama memakai toilet tropis seperti itulah, Hotel Indonesia didirikan. Pada 1962, dunia sanitair mulai berkembang. Saat itu  masuk secara besar-besaran keramik Jepang ke Indonesia dengan merek Toto. Keramik Toto digunakan untuk membangun Hotel Indonesia, Ambarukmo Palace Hotel, Samudra Beach Hotel dan Bali Beach Hotel, Sarinah dan Gelora Senayan. Toto merupakan pabrik pengolahan keramik asal Jepang yang dibangun tahun 1917.

Melihat keberhasilan ini tahun 1968 Mardjoeki Atmadiredja  (Presiden Komisaris Multi Fortuna Group) memperoleh  hak keagenan tunggal produk saniter merek Toto Limited Jepang. Mardjoeki  menyatukan  Toto Ltd dan CV. Surya serta Kashima di Tangerang menjadi perusahaan patungan PT. Surya Toto Indonesia atau STI di tahun 1978. Nama Mardjoeki identik dengan Toto mendapat julukan “Raja Saniter” (Kompas, 4-8-1995). Hal ini karena dia mampu menguasai pasar di dalam negeri Indonesia hampir 50 persen dan masuk ke pasaran internasional. Dengan keberhasilan mengekspor produk ke Taiwan, Malaysia, Amerika Serikat dan beberapa negara di Asia Pasifik lainnya.

Di awal tahun 2000-an, saat daya beli masyarakat semakin naik. Timbul sebuah pandangan menjadikan kamar mandi tidak lagi menjadi area terbelakang yang patut disembunyikan. Bentuk dan desain sanitair pun dapat di sesuaikan dengan arsitektur dan interior bangunan.

Kerjasama dengan sejumlah designer baik arsitek, interior hingga  produk dunia juga sering dilakukan berbagai label untuk memberikan sentuhan eksklusif berkelas. Philippe Starck pernah mendesain untuk Duravit, Zaha Hadid pernah memberikan kontribusi desain modern untuk Vitae Collection dari  Noken, 

Roca dari Spanyol menggandeng sejumlah desainer Eropa peraih penghargaan  seperti Antonio Bullo, Charles Ferrater dan masih banyak lagi. Bullo yang asal Venesia ini adalah desainer spesialis keramik. Dia memenangi empat medali emas Faenza International Ceramic Competition dan Design Plus di ISH Frankfurt. Untuk Roca, dia membuat koleksi The Gap yang compact dan functional, Nexo yang estetis dan ekonomis, dan Chic yang mengetengahkan urban personality.