Pencarian identitas arsitektur modern Indonesia bermula dari keinginan untuk menampilkan identitas arsitektur yang khas, berbeda dengan arsitektur peninggalan penjajah Belanda yang telah berlangsung ratusan tahun. Keberadaan Technische Hoogenschool (kemudian menjadi ITB) sebagai sekolah arsitektur pertama di Indonesia menjadi cikal bakal munculnya ide-ide arsitektur Indonesia yang justru disemaikan oleh pengajar-pengajarnya yang berkebangsaan Belanda. Soekarno menjadi salah satu lulusan pertama sekolah tersebut yang sangat mempengaruhi arah arsitektur modern Indonesia. Dengan visinya, ide-idenya, dan kebijakannya saat itu. Karya-karya arsitek-arsitek lokal yang satu visi dengannya tumbuh menjadi benih-benih arsitektur modern Indonesia. Bukan menyeragamkan langgam, bukan membatasi bentuk, tapi menyediakan wawasan baru yang bisa terus dikembangkan.

  • 1901

    Penerapan politik Etis di Belanda yang mulai memikirkan kesejahteraan masyarakat pribumi di daerah jajahannya. Salah satunya adalah dalam bidang pendidikan

  • 1918

    Proyek sekolah tinggi teknik (Technische Hoogeschool) di Bandung dimulai. Maclaine Pont sudah menerapkan pengaruh arsitektur lokal pada perancangan komplek sekolah ini dengan penerapan konsep vernakular.

  • 1920

    Technische Hoogeschool Bandung resmi dibuka dengan para arsitek Belanda sebagai pengajarnya. Soekarno termasuk salah satu mahasiswa angkatan pertama di sekolah ini.

  • 1945-1949

    Indonesia merdeka dan diakui kedaulatannya. Soekarno sebagai presiden mulai menggaungkan nasionalisme, termasuk dalam urusan arsitektur. Ia ingin arsitektur di Indonesia lepas dari bayang-bayang gaya kolonialisme dan bisa membentuk karakter bangsa.

  • 1959

    Tiga arsitek senior, F. Silaban, Mohammad Soesilo, Liem Bwan Tjie, memprakarsai dibentuknya organisasi profesi arsitek Indonesia. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) kemudian lahir di Bandung pada tahun ini.

  • 1962
    • Soekarno meresmikan pembukaan Hotel Indonesia sebagai bagian persiapan Asian Games di tahun ini.
    • Pembangunan Gedung Pola yang dirancang oleh F. Silaban pada lahan tempat rumah proklamasi
    • Han Awal merancang kampus Universitas Katolik Atmajaya di dekat jembatan Semanggi, Jakarta.
  • 1964

    Soejoedi mengerjakan rancangannya, gedung CONEFO, yang kini menjadi gedung DPR/MPR.

  • 1984

    Perancangan kampus baru Universitas Indonesia di Depok oleh Gunawan Tjahjono dan Budi Sukada.

  • 1985

    Mahasiswa, dosen, serta arsitek profesional ramai mendiskusikan ‘pencakar langit tropis’ baru dalam gedung Wisma Dharmala Sakti yang dirancang oleh arsitek Amerika, Paul Rudolph. Konon, Paul mendapat inspirasi bentuk dari kertas tissue bekas ia pakai saat berada di dalam pesawat.

  • 1989-1990

    Para arsitek muda memulai diskusi rutin di kantor Han Awal & Partners. Muara dari diskusi tersebut melahirkan forum Arsitek Muda Indonesia (AMI) dalam sebuah pameran berjudul 'Arsitektur Perspektif'

  • 1990- 2018

    Praktis belum ada lagi gelombang pemikiran baru arsitektur yang memberi bentuk baru pada arsitektur Indonesia modern