Tidak mudah mencari jejak home appliances di Indonesia. Berbeda dengan arsitektur dan desain interior yang masih bisa diraba tapak-tapaknya di masa lalu, peralatan rumah tangga (bermesin atau elektronika) ini penggunaannya amat minim di masa lalu. Hal ini sebenarnya bisa ditebak, di negara manapun yang masih banyak asisten rumah tangganya, home appliances-nya tidak akan banyak berkembang pesat.

Seperti ditulis dalam Encyclopedia of American Industries dan Antique Electric Waffle Irons 1900-1960: A History of the Appliance Industry in 20th Century America, peralatan rumah tangga ini mulai berkembang di Amerika Serikat pada abad ke-20. Pemicunya adalah mulai menyusutnya pembantu full-time di sana. Penemuan setrika listrik kecil oleh Earl Richardson pada 1903 memantik industri peralatan rumah tangga kala itu.

Dapat dipahami kenapa industri peralatan rumah tangga ini erat kaitannya dengan keberadaan pembantu. Ini karena alat-alat itu diciptakan untuk meringankan pekerjaan ibu rumah tangga kelas menengah. Sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan saat pembantu rumah tangga masih mudah didapat.

Perkembangannya semakin meningkat pada 1960-an saat gelombang emansipasi di Eropa dan Amerika Serikat menjadi tren. Emansipasi membuat wanita mulai meninggalkan rumah dan bekerja di kantor atau pabrik. Di saat yang sama mereka tetap dituntut sebagai ibu rumah tangga. Maka peralatan yang praktis dan mempermudah peran ganda mereka pun diciptakan. Di antaranya adalah mesin pencuci piring dan microwave pada 1970-an.

Seperti juga di Amerika Serikat, faktor pembantu rumah tangga menjadi penentu. Kemudahan mendapatkan akses bantuan dari mereka membuat sejumlah peralatan alat elektronik kurang populer di Indonesia pada awal-awal 1980-an. Selain itu, bahkan hingga kini sekalipun, keterbatasan listrik juga menjadi faktor penentu. “Tidak semua rumah tangga memiliki mesin cuci dan AC. Masih ada beberapa faktor penyebabnya, salah satunya adalah keterbatasan listrik,” ungkap Ali Soebroto Oentaryo, Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (GABEL) kepada Marketeers.

Di Indonesia, peralatan elektronika untuk rumah tangga yang pertama populer, tentu saja adalah televisi dan kulkas. Ini sudah populer sejak 1970-an, karena memang tidak bisa digantikan oleh peralatan lainnya. Bahkan kehadiran kulkas lebih cepat dibanding kompor gas yang baru populer pada 1990-an awal.

Kulkas di Indonesia juga lebih dulu populer dibandingkan dengan mesin cuci, karena tugas mencuci pada 1980-an masih bisa diserahkan sepenuhnya kepada pembantu rumah tangga. Meski telah lama masuk ke Indonesia, vacuum cleaner baru benar-benar mendapat tempat akhir-akhir ini. Kebanyakan rumah di Indonesia yang tidak menggunakan karpet (karena kita berada di negara tropis) membuat kita tidak terlalu sering mengeluarkannya dari gudang. Kita lebih nyaman menginjak lantai yang disapu dan dipel secara manual.

Kehadiran dapur modern (dapur kering) di Indonesia pada 1990-an sebenarnya turut memunculkan home appliances seperti microwave dan juicer. Namun, karena aktivitas utama masih dilakukan di dapur basah oleh para asisten rumah tangga, peralatan modern ini juga jarang disentuh oleh pemilik rumah. Lebih banyak menjalankan fungsi dekoratif dibandingkan fungsional.

Baru pada 2000-an ketika banyak anak muda berpindah ke apartemen atau rumah yang lebih compact (berpisah dari rumah induk orangtua), peralatan rumah tangga mendapatkan fungsi yang sebenarnya. Ditambah lagi anak-anak muda ini lebih akrab dengan makanan Barat yang memang lebih cocok dengan home appliances yang dirancang di sana.

Tren memasak juga membantu perkembangan industri home appliances di Indonesia akhir-akhir ini. Tentu saja, blender dan mixer, sudah lebih dulu populer pada awal 1980-an. Namun oven elektronika dan slow cooker listrik baru dua dekade terakhir menjadi favorit.

Tahun lalu, pertumbuhan industri home appliances relatif stagnan. Hal ini dikarenakan ada beberapa barang yang tumbuh dan ada yang tidak. Menurut Ali Soebroto Oentaryo, Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (GABEL), pada 2017 pertumbuhan televisi stagnan.

Sekali lagi, ini ada hubungannya dengan gaya hidup kita. Dulu, ada televisi di setiap kamar, selain di ruang keluarga. Kini, tuntutan dari anak-anak agar ada televisi di kamar sendiri sudah mulai berkurang. Mereka lebih senang melihat layar yang lebih kecil (smartphone dan tablet).

Yang meningkat, menurut GABEL, adalah penjualan pendingin ruangan. Ini juga merupakan salah satu home appliances yang sejak 1990-an sudah mulai mengisi rumah-rumah di Indonesia. Kategori seperti kulkas, mesin cuci, dan AC ini akan mengalami kenaikan. Ketiga jenis perangkat elektronik ini mencapai pertumbuhan hingga 7 persen.