Muhammad Farouk Kamal bisa dikatakan sebagai salah seorang pendobrak di bidang furniture. Pada 1960-an, ketika kebanyakan produsen furniture di Indonesia berkutat pada gaya-gaya tradisional, kayu jati, dan ukiran berat, Farouk mengadopsi desain-desain Skandinavia dan kawasan Eropa lainnya. “Farouk Kamal adalah seorang desainer yang bercitarasa tinggi, kreatif, dan sangat menguasai masalah industri permebelan kayu,” kata desainer yang juga akademisi, Imam Buchori.

Bersama keempat saudaranya, ia mengelola Kamal Furniture. Kelimanya bersatu mengikuti pesan sang ayah, H.A. Kamal, pengusaha hasil kayu dari Kudus, Jawa Tengah, untuk selalu bersatu dalam menempuh kehidupan. Dibina oleh ibunya, Aisyah, Farouk beserta saudaranya mendirikan CV Kamal atau Kamal Furniture pada 1968. Perusahaan ini bergerak di bidang industri bahan baku mebel dari rotan. Sebagai lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), Farouk bertanggungjawab langsung untuk urusan desain semua produknya – belakangan CV Kamal menyerap lebih dari 200 karyawan.

Desain-desain produk rotan Kamal Furniture termasuk yang paling terdepan pada saat itu. Dengan pengaruh desain Skandinavia yang sangat kental, produk-produk mereka sukses menembus pasar internasional, sekaligus terkenal di dalam negeri. Karena kualitasnya yang baik, Kamal Furniture pun menjadi mitra atau produsen bagi brand-brand luar negeri, salah satunya adalah Yamakawa.

Dalam bekerja Farouk selalu profesional. Setiap ada gagasan atau ide baru, ia selalu melakukan evaluasi dan otokritik bersama. Pameran tahunan yang diadakan oleh Asosiasi Pengusaha Hasil Hutan dan Kerajinan Indonesia (APHKI) selalu Farouk nantikan karena ajang ini melombakan desain kursi dan lomba desain stand terbaik. Kamal Furniture selalu meraih kemenangan setiap lomba desain diadakan.

Bukan hanya unggul dalam kualitas, mereka juga unggul dalam komponen yang digunakan.
Kamal Furniture menggunakan komponen berkualitas tinggi dan tidak mudah ditiru, seperti upholstery dari kulit asli, sandaran tangan terbuat dari kulit yang dihubungkan dengan ring metal yang didesain khusus, alas duduk yang menggunakan terpal dengan finishing permukaan menggunakan melamic spray, dan untuk kekuatan konstruksinya digunakan mesin yang didesain sendiri oleh Kamal Furnitur. Hasilnya, dekade 1970-an inovasi yang dilakukan Kamal Furniture sangat maju dan tidak ditandingi perusahaan lain.

Masih bersama saudaranya, Farouk mendirikan PT Macrowood pada 1975 untuk mengolah kayu ramin, kayu asal Kalimantan yang semuanya diekspor gelondongan untuk bahan mebel dan daun pintu. Beserta 120 karyawannya, perusahaan ini dapat meraup omset hingga Rp 3 milyar dengan produk-produknya yang telah diekspor hingga ke Inggris, Balanda, Jerman, Amerika, Asutralia, Jepang, dan Singapura.

Salah satu desain Farouk yang populer dan menjadi pemenang kedua lomba desain pada 1976 yakni Kursi Parkit. Ini adalah kursi makan yang sangat laku di pasaran saat itu. Desainnya sangat ringan dan memiliki desain sederhana juga modern. Kayu-kayu berwarna terang dengan garis desain yang simpel menjadi ciri khas desain Farouk.

Dalam design & lifestyle, yang tercepat adalah perkembangan fashion design, selanjutnya disusul dengan furniture design,” kata Farouk seperti dikutip dari blog Apikayu. Hal tersebut menandakan bahwa ilmu desain mebel termasuk fasilitas duduk memiliki daya cakup yang sangat luas. Ia tak sekadar barang mati, namun memiliki gaya hidup, kreativitas, estetika, antropometri, ergonomi, teknologi material, teknologi proses, dan sosial ekonomi di dalamnya.