Mereka yang pernah berkunjung ke The Manor House di Nederburg, Afrika Selatan, pasti bisa melihat sesuatu yang familiar di winery tersebut. Lantai merah terakota yang terletak di teras depannya mengingatkan kita akan lantai eksterior di sejumlah bangunan kuno di Kota Tua, Jakarta. Lantai yang dikenal sebagai Batavian tiles ini konon memang berasal dari Batavia. The Manor House dibangun oleh Phillippus Wolvaart pada 1800. Bangunan ini kemudian ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi pemerintah Afrika Selatan pada 1975.

Sebelum menjadi perkebunan penghasil anggur, tempat itu sejak abad ke-17 merupakan perkebunan dan peternakan hewan potong. Pada 1657 mereka mendapatkan lisesnsi dari VOC untuk menyuplai makanan dan ternak untuk kapal-kapal dagang yang pulang pergi dari Belanda ke Hindia Belanda. Waktu itu terusan Sinai di Mesir belum dibangun, hingga semua kapal dagang Eropa harus memutar sangat jauh ke Afrika Selatan untuk sampai di Asia. Dari hubungan inilah barang-barang Batavia masuk ke koloni Belanda di Afrika Selatan, termasuk keramik dan lantai.

Selama berabad-abad, bahkan hingga kini, Batavian tiles populer di Cape Town dan sekitarnya.

Pengaruh era kolonial Belanda pada industri lantai memang kuat. Tidak hanya di Afrika Selatan, tentunya, tapi juga di Indonesia hingga saat ini. Perkembangannya berbarengan dengan arsitektur kolonial selama ratusan tahun dan berkembang pesat seiring dibangunnya berbagai bangunan perkantoran maupun tempat tinggal. Arsitektur kolonial Indonesia mengadopsi gaya neo-klasik, yaitu desain yang memadukan antara arsitektur Yunani dan Romawi. Desain ini memengaruhi penutup lantai yang digunakan, sehingga sesuai dengan iklim tropis di Indonesia.

Peradaban penutup lantai dimulai di Jawa, karena memang perekonomian era kolonial terpusat di pulau ini. Jejak peninggalannya tersebar di beberapa daerah seperti Semarang dengan gedung Lawang Sewu, Bandung dengan Gedung Sate, hingga Jakarta dengan kota tua.

Bandung menjadi salah satu sejarah arsitektur kolonial yang nyata, bahkan dijuluki sebagai “Laboratorium Arsitektur Kolonial di Nusantara”. Hal ini disebabkan udara Bandung yang sejuk, sehinga diminati para penjajah Belanda sebagai kawasan tempat tinggal dan perkantoran. Ciri khas utama pada penutup lantainya adalah pemakaian tegel, yaitu material yang terbuat dari campuran pasir dan semen yang dipercantik dengan motif dan pewarnaan.

Meningkatknya kebutuhan material bahan bangunan dan industri peralatan rumah tangga dibentuklah laboratorium keramik oleh Hindia Belanda dengan nama “Het Keramische Laboratorium” pada 1922 di Bandung (sekarang Balai Besar Keramik di bawah Kementerian Perindustrian RI). Fungsi utamanya sebagai pusat penelitian bahan bangunan seperti bata, genteng, saluran air, air, dan lainnya yang terbuat dari tanah liat. Tegel antik ini juga digunakan masyarakat lokal untuk menunjukkan status ekonominya, karena hanya dipakai para bangsawan atau rumah-rumah tradisional dengan status sosial masyarakat yang tinggi saat itu.

Perkembangan tegel menyebar ke Yogyakarta, tepatnya pada 1927, Louis   Maria Stocker  dan Jules Gerrit Commane mendirikan pabrik ubin semen dengan nama Firma Tegel Fabrik Midden Java. Pabrik         ini memulai produksi pada 16 Desember 1929. Sejak saat itu ubin           semen dengan cepat mendapatkan popularitas dan    bahkan pada awalnya           pabrik  mulai memasok ubin ke bangunan-bangunan  bersejarah seperti Keraton Yogyakarta. Pada 1931, Jules Commane meninggalkan Indonesia dan menjual sahamnya 50 persen kepada Ir. Liem Ing Hwie.

Pada 1942-1945 terjadi kekacauan politik yang mengganggu industri tegel, demikian juga yang terjadi di Bandung. Laboratorium keramik non tile ini mengalami gejolak, banyak karyawannya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia. Penjajahan Jepang lalu menggantinya menjadi “Toki Shinkenjo”. Fungsinya sebagai penelitian dan pengembangan, serta memproduksi barang-barang keramik dengan suhu bakar tinggi seperti bata tahan api, botol sake, dan sebagainya yang difokuskan untuk keperluan bala tentara Jepang di Indonesia.

Geopolitik yang terjadi ‘menidurkan’ industri penutup lantai selama beberapa tahun. Tepat pada 1957 pemerintah mengambil alih beberapa perusahaan yang dimiliki Belanda, termasuk Fabrik Miden Java. Pada 1963, pemerintah daerah Yogyakarta mengubah namanya menjadi Pabrik Tegel dan Beton Cap Kunci yang 10 tahun kemudian dikembalikan lagi ke ahli waris Ir. Liem Ing Hwie, Suleiman.

Peristiwa pengambil alihan juga terjadi di Bandung. Nama “Toki Shinkenjo” berubah menjadi Balai Penyelidikan Keramik (BPK), dalam operasionalnya dilengkapi dengan alat-alat pengujian dan alat produksi yang lebih modern.

Pasca pengambilalihan industri yang dimiliki Belanda pada 1957, industri penutup lantai bermunculan, salah satunya teraso (terrazzo) berasal dari kata Italia yang artinya teras, atau penutup lantai untuk teras depan rumah. Teraso merupakan hasil limbah penambangan marmer yang diolah kembali menjadi bahan penutup lantai alternatif. Industri ini sudah ada sejak zaman para firaun di Mesir. Namun banyak yang percaya, teknik yang dikembangkan saat ini berasal dari Venesia pada abad ke-18. Kemunculnya di Indonesia tidak lepas dari sejarah masuknya penjajahan Belanda.

Produk dan teknologinya  berkembang mulai 1957, tepat setelah proses pemerintahan mulai berjalan kondusif. Tumbuh ratusan industri penghasil teraso yang menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Hal ini juga didorong oleh kekosongan dan meredupnya industri penutup lantai tegel yang terjadi pada 1949-1997.

Kekosongan produksi tegel saat permintaan naik itu juga berpengaruh pada industri keramik yang berkembang pesat. Menurut Mulyadi Toha, Ketua Bidang Komersil, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia, kemunculan teraso dan keramik menjadi solusi cepat dan efisien untuk memenuhi kebutuhan properti yang tumbuh pada 1970-1980an. Pada era ini teraso dan keramik booming, selain masifnya pembangunan gedung, juga kebutuhan rumah tinggal. Teraso menjadi pilihan gedung-gedung perkantoran, hotel, dan beberapa hunian besar. Adapun keramik mendapatkan segmen perumahan.

“Kemunculan teraso banyak dipakai pada gedung perkantoran, hotel, dan rumah. Saat itu motifnya sudah beragam, seperti serpihan batu alam, serpihan kaca, potongan ubin, kepingan kerang laut, dan sebagainya. Saat itu keramik yang bisa dibuat baru warna putih. Jadi kalah cantik dengan tegel atau teraso,” jelas Toha.

Di kutip dalam website kiceramics.com, Oie Jong Tjioe, sarjana Hukum lulusan Leiden Belanda, mendirikan perusahaan (pabrik) keramik putih pertama di Indonesia dengan nama Keramika Indonesia Asosiasi atau KIA di Belitung pada 1953. Oie melihat kawasan ini memiliki potensi bahan baku yang melimpah. Di tahun itu industri keramik bermula dari produksi peralatan makan dan dekorasi ruang yang bahan bakunya masih diimpor. Mulai 1968 KIA memproduksi keramik dinding dan aksesorinya dengan 725 staf. Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) pun terbentuk pada 1972.

Ada peran Wakil Presiden Mohammad Hatta terhadap apa yang terjadi di industri keramik pada 1950-an. Hatta menganggap industri ini berpotensi. Karenanya, pabrik keramik peninggalan Belanda di Sukaraya (Jawa Tengah) dan Tulungagung (Jawa Timur) dibuka kembali sebagai Perusahaan Industri Daerah (Pinda). Sedangkan yang berada di Belitung pengelolaannya diserahkan kepada swasta, yakni KIA. Semua atas saran Bung Hatta yang meminta agar industri tidak dipusatkan di Pulau Jawa dan KIA tetap di Sumatera.

Pergantian kepemimpunan pada 1965 membuat industri ini sempat redup. Kebangkitan dimulai pada 1968 saat KIA menjalin kerjasama dengan pabrik Sphinx asal Belanda. Mesin-mesin baru dan modern pun didatangkan, serta mengirimkan tenaga kerja untuk mempelajari pengetahuan dan alih teknologi keramik.

Puncaknya pada 1977-1982, pemakaian penutup lantai keramik meningkatnya tajam. Ada banyak gedung, rumah, hotel, rumah sakit, dan lainnya yang memakai lantai keramik. Menurut data  ASAKI, pada 1984 orang Indonesia memakai keramik 1,3 kilogram per tahun. Pada 1983 telah diproduksi 13,3 juta meter persegi keramik untuk lantai dan dinding. Pada era ini lantai keramik mengedepankan fungsi. Juga dibarengi tumbuhnya beberapa material penutup lantai lain seperti batuan marmer, andesit, candi, dan lainnya.

Pada 1990-an ke atas lantai keramik mulai memikirkan estetika. Lahirlah berbagai teknik pewarnaan permukaan kramik, mulai dari yang model sablon, roto color, roto drum, dengan hasil yang lebih baik dan natural.

Dari era tersebut hingga awal 2000-an, penutup lantai tumbuh bersama. Pemanfaatannya sudah lebih banyak mengedepankan unsur estetika. Bahkan beberapa hunian mengkombinasikan penggunaan keramik, marmer, batu alam, granit, tegel, dan lainnya dalam satu bangunan. “Tegel yang dulu sempat turun, kembali diminati sejak 2014 hingg sekarang. Ini tidak lain karena pengaruh media dan sosial media yang berkembang pesat,” ujar Putu Aneth, Desainer Interior yang juga memiliki bisnis tegel dengan merek TegelSoeryo.

Terbatasnya batuan alami dan berkembanganya teknologi digital printing di dunia membuat banyak perusahaan yang memakai teknik ini untuk menghadirkan suasana alami lewat keramik. Teknologi ini menghasilkan pewarnaan yang jauh sempurna, karena menggunakan komputerisasi. Teknologi ini masuk ke Indonesia 2011 hingga 2105. Fenomena ini pun disambut antusias masyarakat, terlebih properti sedang dalam kondisi membaik.

Awal 2016 hingga sekarang, teknologi penutup lantai keramik mengalami loncatan lagi, yaitu teknologi yang menghasilkan keramik ukuran besar dan ekstra besar. Jika sebelum 2016 keramik dengan ukuran 60 x 60 paling banyak diminati. Kini varian produknya lebih besar hingga 80 x 80 hingga 100 x 100. Inovasi kembali dimunculkan Quadra sebagai produsen lantai dengan ukuran slab, 3,2 x 1,6 meter. Fungsinya tidak sebatas menutupi bagian lantai, tapi bisa digunakan untuk dinding, kitchen top, meja kerja, dan lainnya.

“Lompatan besar dalam industri keramik lantai terjadi pada 2017 akhir hingga 2018 ini. Penutup lantai slab menjadi solusi bagi pecinta batuan marner yang harganya kini sudah tidak masuk akal. Terlebih motif yang dihasilkan pun tidak kalah baiknya dengan aslinya,” jamin Toha.