Saat Home Living melontarkan pertanyaan siapa tokoh yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan desain mebel Indonesia, semuanya di tempat dan waktu berbeda kompak menjawab, Imam Buchori Zainuddin. “Imam memiliki caranya sendiri dalam membuat karyanya, dengan mengawinkan ilmu ergonomi dan ilmu seni rupa,” kata Abdul Djalil Pirous, salah satu guru besar Seni Rupa ITB dan seniman besar Indonesia yang telah lebih dari 30 tahun menjadi pengguna setia mebel karya Imam Buchori.

Imam kini sudah berusia 79 tahun. Sudah lebih dari setengah abad dia berkarier di bidang desain produk, sejak ia lulus dari Seni Rupa ITB pada 1966. “Sejak saat itu saya berambisi menjadi pembuat karya yang artistik, fungsional, dan tidak tunggal,” kata Imam saat kami temui.

Berawal dari kesulitan ekonomi, sembari mengajar Imam membuat karya-karya berbahan kayu seperti lamp shade dan standing lamp. “Obsesi saya bereksperimen dengan berbagai material, terutama akrilik, membuahkan karya lampu duduk, produk souvenir dari akrilik yang dibentuk melalui pemanasan atau penggorengan.”

Awalnya Imam hanya meniatkannya sebagai produk komersil. Hingga pada 1969 koran Pikiran Rakyat menuliskan artikel dengan judul ‘Lampu Sang Desainer’. “Pengakuan desainer yang diberikan kepada saya merupakan penghargaan untuk menjadi desainer profesional lagi,” tuturnya.

Pengalaman Imam sebagai Exhibition Officer pada Pavilion Expo 70 di Osaka Jepang selama tujuh bulan semakin menambah wawasannya akan desain. Sepulang dari Jepang, pada 1972, ia mendapat tawaran melanjutkan bidang studi ke The Royal Danish Academy of Art and Architecture Copenhagen. Ini adalah lembaga pendidikan tertua di Denmark yang telah menghasilkan arsitek dan desainer ternama seperti Arne Jacobson, Hans Wegner, Jorn Utson, Henning Larsen, Finn Juhl, Verner Panton, dan Kaare Klint.

Kursi Komodo (1980)
Kursi Komodo (1980)
Kursi Laminasi (1982)
Kursi Laminasi (1982)

Sumbangan terbesar Imam untuk mebel Indonesia adalah dengan mempelopori pemakaian rotan—bahan baku mebel khas Indonesia—untuk karya mebel bernilai tinggi. Sebelumnya rotak hanya dipakai secara tradisional. Tidak ada desainer yang mengangkat rotan karena dimensinya yang tidak sama. Tidak bisa dibuat standar industri. Ini tentu berbeda dengan kayu yang bisa dibuat standar, karena meski pokok pohon berbeda dimensi, hal itu bisa disamakan dalam proses penggergajian. Lebar dan diameter rotan tidak bisa disamakan.

Pengetahuannya tentang rotan, justru didapatnya dari mengaajar. Saat itu, pada 1973, LP3ES yang dibantu Frederich Neuman Stiftung dari Jerman meminta bantuan Imam untuk memberikan pelatihan kepada para pengrajin Tegalwangi, Cirebon. Selama enam bulan sekitar 56 pengrajin rotan dilatih di kampus ITB untuk mengenal gambar, dasar-dasar desain, mengenal material, dan teknik finishing terbaru. “Bagi saya pribadi itulah momen untuk mengenal rotan pertama kalinya dan belajar proses pembentukan rotan,” imbuh Imam.

Hasil dari pembinaan tersebut dipamerkan di Taman Ismail Marzuki. Di luar dugaan pameran tersebut mendapatkan perhatian besar dari kalangan publik, pers, dan lembaga pemerintah karena dianggap membawa perubahan untuk produk rotan Tegalwangi yang terkesan murah. Salah satu karya Imam yang turut dipamerkan di sini yakni kursi Srigunting.

“Setahun kemudian kawan seperguruan saya Farouk Kamal yang tergabung dalam Kamal Furniture menawarkan kerjasama produk mebel berbasis rotan,” lanjut Imam. Bagi Imam tawaran ini merupakan ajakan yang menantang, mengetahui bahwa strategi pasar dari perusahaan ini mengutamakan pendekatan desain modern dan kualitas pekerjaan berbasis masinal. “Di perusahaan ini saya banyak belajar hal baru tentang masalah produksi, distribusi, dan pemasaran. Tantangan terbesarnya adalah mencari strategi desain rotan yang sesuai untuk perusahaan ini,” kata Imam.

Penerapan proses desain yang dikerjakan secara tradisional tentu tak tepat untuk perusahaan ini sehingga perlu dilakukan rasionalisasi produk sehingga produksi dapat distandarkan dan hasil produksi dapat diperbesar. “Konsekuensi sistem ini konsep desain harus disesuaikan dengan menghindari bengkungan yang rumit, memotong rotan dengan tidak terlalu panjang sehingga memungkinkan dibentuk,” tutur Imam yang tergabung dengan Kamal Furniture hingga 1985.

Seperti kata Pirous di awal tulisan, Imam tidak hanya apik dalam mendesain, tapi dia juga mampu membuat mebel yang ergonomis. Hal ini dia pelajari saat berkesempatan studi lanjutan di Birmingham University, Inggris. “Tujuan saya mengambil program studi ini bukan untuk menjadi scientist, tetapi desainer yang menguasai aspek sains ergonomi yang berkaitan dengan sistem kerja fisiologis dan psikologis manusia dalam interaksinya dengan alat atau mesin,” ujar Imam yang setelah lulus memberanikan untuk merenovasi desain Generator Hipoklorit yang berfungsi untuk disinfeksi.

Hingga 2000-an, Imam tidak hanya mendesain mebel dan alat-alat elekstronik, ia pun berkecimpung dalam dunia seni dan spatial atau keruangan. Ini terlihat dari beberapa rumah yang menggunakan jasanya dalam mendesain interior dan arsitektur.