Sejak lulus kuliah di Departemen Agronomi, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1983, Hadi Susilo Arifinlangsung bergabung dalam lingkup akademisi IPB dan  bersama Ir. Zain Rachman. Hadi yang melanjutkan S2 di sekolah yang sama ini bahkan ikut mendirikan arsitektur pertamanan  IPB. “Taman tidak hanya ruang luar pada bangunan, tetapi meluas pada penataan lanskap atau bentang alam dengan dasar keilmuan. Unsur estetis tidak selalu menjadi yang utama, tetapi lebih ke pengolahan landskap yang terjaga keberlangsungannya,” kata Hadi.

Pada 1994, ia mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan doktoraldi Okayama University,Jepang. Di sana ia tertarik untuk mengangkat taman Jepang sebagai studi kasus dalam salah satu mata kuliah. Keinginannya ini justru ditentang salah satu dosennya yang asli Jepang, “Indonesia adalah bangsa besar, pelajari taman yang ada di negaramu.”

“Kata-kata itu memancing minat saya untuk mempelajari tama Indonesia,” kenangnya.

Beruntung ia pernah terlibat menjadi juri lomba taman tingkat nasional pada 1991. Penghargan setingkat Kalpataru dan Adipura yang dilaksanakan periodik dua tahunan dan diprakarsai oleh Tien Soeharto.  “Temanya taman rumah. Saya beserta tim penilai berkeliling ke seluruh Indonesia. Akhirnya saya menemukan bahwa Indonesianhome garden adalah pekarangan. Desainnya lebih terstruktur dan sangat dipengaruhi kearifan lokal. Tiap daerah ada ciri tersendiri, karena dipengaruhi adat istiadat, cuaca, agama dan keadaan alam. Menariknya, pekarangan Indonesia sudah menerapkan  lanskap produktif yang sedang menjadi tren dunia sekarang, “kata Hadi.

Hasil penelitiannya tentang lanskap pekarangan Indonesia, membawanya menjadi pembicara di banyak simposium di dunia. “Sudah saatnya desainer lanskap mendesain taman yang tidak hanya indah dipandang, tapi juga harus produktif dan bisa dimanfaatkan, minimal untuk kebutuhan pribadi. Indonesia kaya sekali tanaman lokal yang bagus, seperti kenikir. Bunganya indah dan bisa dimanfaatkan pucuknya sebagai lalapan. Markisa selain buahnya dimakan, bunganya pun indah,” ujarnya.

Di rumahnya yang asri di Bogor, Hadi  telah mengembangkan lanskap produktif.“Saya sedang mengusung kawasan  pangan lestari. Dimulai dari pekarangan rumah yang saya jadikan percontohan urban farming sebagai model pertanian kota masa kini dan masa depan,” katanya.

WhatsApp Group ia manfaatkan sebagai forum silaturahmi antar anggota KPID (Komunitas Pekarangan dan Kebun  Pangan Indonesia) untuk saling bertukar info dan berbagi cerita keberhasilan. Setelah dicetuskan olehnya tiga tahun lalu, anggota KPID semakin banyak. Anggotanya mulai dari birokrat, pejabat, mahasiswa ibu rumah tangga, dan professional yang mulai sadar pentingnya hidup sehat dengan mengkonsumsi sayur dan buah bebas pestisida dari kebun sendiri.

Selain mengembangkan urban farming. air adalah bidang yang saat ini menjadi fokusnya. Sejak 2010 ia menaruh perhatian dengan meneliti sungai, danau, dan tirta budaya situ sebagai pengembangan keilmuan dari Jepang.Salah satunya adalah Situ Cibuntu yang berada di komplek limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). “Saya mendesain secara estetika agar Situ Cibuntu bisa dijadikan tempat rekreasi, wisata untuk pegawai dan masyarakat sekitar,” katanya.