Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil. Friedrich Silaban telah memberi contoh nyata tentang kebenaran pepatah tersebut. Dengan berbekal pendidikan setingkat STM (sekolah Teknik Menengah), pria kelahiran tepian Danau Toba ini menjelma menjadi ‘arsiteknya Sukarno’. Visi dan gagasan sang Pemimpin Besar Revolusi bisa ia tangkap dan terjemahkan dengan caranya sendiri. “By the grace of God,” ujar Bung Karno ketika Silaban, seorang anak pendeta Protestan, terpilih sebagai pemenang sayembara perancangan Masjid Istiqlal pada 1955.

“Tidak mungkin bicara karya arsitektur (Indonesia) tanpa ada karya beliau,” ujar Setiadi Sopandi, penulis buku berjudul Friedrich Silaban. Peran Silaban dalam perjalanan arsitektur Indonesia modern memang sangat penting. Istiqlal menjadi salah satu karya monumentalnya. Sukarno menyambut usulan pembuatan masjid yang disampaikan oleh beberapa orang tokoh Islam pada awal 1950-an, salah satunya KH. Wahid Hasyim yang menjabat sebagai Menteri Agama kala itu. Bahkan sang Presiden yang juga arsitek ini dilibatkan sebagai anggota dewan juri sayembara rancangan Masjid Istiqlal.

Pada masa itu Sukarno sedang menggiatkan pendirian bangunan-bangunan yang secara arsitektur bisa membentuk wajah Indonesia yang baru, yang modern, menghapus jejak-jejak kolonialisme. Hal tersebut rupanya sejalan dengan visi arsitek Silaban yang sebenarnya hasil sistem pendidikan Belanda. “Sebagai arsitek yang kental didikan Belanda, Silaban justru mencoba keluar dari pengaruh Belanda dan menampilkan bangunan yang kaya identitas arsitektur Indonesia,” kata Setiadi.

BNI 46
Gedung kantor Bank BNI 46

Dalam buku Tegang Bentang; Seratus Tahun Perspektif Arsitektural, arsitek Yuswadi Saliya mengatakan, Silaban tampak berapi-api mempertahankan semangat tropis dengan jangkauan tiris/jurai, overhang, yang lebar dan dinding kerawang yang mengingatkan pada anyaman bambu. Salah satu arsitek pendiri Atelier 6 ini beranggapan hal tersebut mewakili hasil pendidikan humanisme-liberal Belanda.

Arsitektur modern yang jadi pilihan Sukarno untuk mencapai wajah baru Indonesia juga diimbangi dengan karakternya yang berorientasi dari masa kini ke masa depan. Peristiwa sepenting Proklamasi Kemerdekaan pun tidak membuat sebuah ruang menjadi sakral bagi Sukarno. Pada akhir 1950-an, salah satu bangunan di tempat dibacakannya naskah proklamasi dirobohkan. Lahannya kemudian menjadi bagian dari proyek pembangunan Gedung Pola. Lagi-lagi Silaban ditunjuk sebagai arsitek dari bangunan yang difungsikan sebagai ruang pamer yang memperlihatkan rencana-rencana pembangunan ini.

Kecewa dengan pembentukan GAPERNAS (Gabungan Perusahaan Nasional) yang menjadi asosiasi nasional untuk firma desain dan kostruksi oleh pemerintah pada 1959, Silaban dan Soehartono Soesilo yang hadir pada konferensi acara tersebut kemudian berinisiatif untuk mengadakan konferensi khusus arsitek. Menurut mereka cara kerja arsitek dan aannemer (pemborong) tidak bisa dianggap sama.

Masjid Istiqlal
Gedung kantor Bank BNI 46

Pada 16 September 1959, Silaban, Mohammad Soesilo (ayah dari Soehartono Soesilo yang juga seorang arsitek), dan Liem Bwan Tjie, mengadakan konferensi bersama 18 arsitek muda dari ITB. Lokasinya di kediaman Liem Bwan Tjie di Bandung. Pada akhir hari kedua konferensi yang dilanjutkan di sebuah restoran di Dago, lahirlah Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) sebagai organisasi arsitek profesional di Indonesia.

Bila kita sering mengagumi kokohnya bangunan-bangunan buatan Belanda yang masih berdiri hingga kini, maka karya-karya Silaban juga tidak kalah. Tengok bagaimana Kantor Pusat Bank Indonesia di Jalan Thamrin atau gedung kantor Bank BNI 46 di Jalan Lada Kota Tua masih kokoh digunakan hingga sekarang. Belum lagi Istiqlal yang ikonik itu.

Totalitas Silaban terhadap profesinya memberi banyak warisan bagi arsitektur Indonesia modern. Dari bangunan hingga IAI. Dari pikiran hingga tenaga. “Bisa dibilang, setengah masa karier Silaban dia habiskan untuk Istiqlal. Pernah dia sudah di kursi roda, namun masih ke Istiqlal untuk inspeksi,” cerita Setiadi Sopandi.