Saat ini kita mengenal Eva Natasa sebagai sesorang desainer mebel. Karyanya, seri Lula telah menghiasi berbagai interior kafe atau restoran. Namun jauh sebelum mendesain Lula, perjalanan karier Eva justru bermula dari desainer industri khususnya produk perlengkapan rumah tangga. “Awalnya saya bersekolah desain interior di The Kent Institute of Art and Design, London,” ceritanya.

Sempat kembali ke Indonesia dan bekerja sesuai dengan pendidikannya justru membuatnya merasa tidak nyaman. Bagi Eva dunia interior terlalu luas, dan ia membutuhkan sesuatu yang lebih personal. Saat mengunjungi Exhibition 100% Design di London, Eva justru tertarik mengetahui di mana produk-produk tersebut diproduksi. Dari event tersebut, Eva semakin yakin akan tekadnya membuat sesuatu yang lebih 'kecil' dari desain interior. Dan dipilihlah The Instituto Europeo di Design, Milan, Italia untuk melanjutkan pendidikan desain industri.

Di sekolah barunya ini Eva dipertemukan dengan para ahli di bidangnya dalam empat proyek yang berbeda. Inilah yang membedakan sekolah desain industri pilihannya dengan sekolah-sekolah umumnya yang memberikan materi tertulis. Di sinilah Eva belajar, mulai dari proses desain hingga produksi suatu produk. Untuk proyek pertama, ia bekerjasama dengan Giorgio Fedon untuk produksi tas. Di proyek keduanya, Eva bekerjasama dengan Pentole Agnelli, sebuah perusahaan yang memproduksi panci alumunium, proyek ketiga bekerjasama dengan brand Whirlpool cabang Eropa dalam memproduksi mesin cuci, dan terakhir, bekerjasama dengan 3M dalam membuat water filter.

 “Setelah lulus, pada 2006, produk pertama yang saya kerjakan membuat sebuah speaker. Produk tersebut rencananya akan di produksi pada 2008. Setelah melakukan research didapati, pada 2008 desain mengacu pada well being, warna putih dengan bentuk-bentuk organik. Dan saya mengambil bentuk buah pear yang inspirasinya hadir saat makan siang.”

Dalam desain industri semua dikerjakan oleh tim, dan Eva hanya mengerjakan tampilannya. “Untuk perangkat dalamnya bekerjasama dengan Grundig, ” lanjutnya. Hanya dibutuhkan waktu empat minggu untuk mendesain semuanya, semua harus dikerjakan on schedule. “Produk yang diproduksi bisa mencapai ribuan hingga jutaan item sehingga tidak bisa mundur dan main-main,” imbuh Eva.

Dari sinilah karirnya sebagai desainer industri dimulai. Ia bekerja di Design Group Italia pada proyek-proyek dan klien internasional seperti 3MTM Italia, 3MTM USA, Post-it®, CommandTM, Scotch, Scotch Brite® dan Hormel Food Corporation. Eva merupakan bagian dari tim yang sukses untuk mendesain proyek-proyek skala besar di dunia dan ia pun memiliki paten USA sebagai penemu alat pembersih yang dirancangnya untuk Scotch USA.

Karena dikerjakan oleh tim, maka kita tak pernah menjumpai nama desainer di balik sebuah produk. Ini berbeda dengan karya kreatif lainnya. “Saya sangat menyenangi dunia industri karena tidak bersifat ego sentris. Kita tidak perlu menaruh nama kita di setiap produk yang didesain, padahal produk tersebut menyentuh banyak orang,” kata Eva.