Berbeda dengan arsitektur, jejak desain interior di Indonesia tidak terlihat panjang. Profesi desainer interior mulai digunakan pada bangunan-bangunan di Indonesia baru pada dekade kedua kemerdekaan. “Sebelum tahun 1960-an, arsiteklah yang mengerjakan semuanya, mulai bangunan hingga interior,” kata Lea Azis, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Pusat saat dijumpai di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Dapat dimaklumi, karena kedua bidang itu awalnya disatukan dalam pendidikan formal. “Pada 1920 telah didirikan pendidikan desain formal Technische Hogeschool te Bandoeng yang empat tahun kemudian mengangkat Charles Prosper Wolff Schoemaker sebagai pengajar studi arsitektur dan seni dekoratif,” ujar Solichin Goenawan, desainer interior senior.

Masih menurut Solichin, selain mengajar, Schoemaker yang juga guru Sukarno saat menuntut ilmu arsitektur, juga produktif sekali dalam menciptakan karya-karya bangunan. Tidak hanya arsitektur bangunannya, Schoemaker juga merancang setiap detil interior dan furnitur yang digunakan.

“Karya bangunannya masih dapat kita saksikan hingga kini sebagai bangunan yang dilindungi Undang-undang Cagar Budaya, namun desain interiornya sudah banyak hilang dan berubah, terutama sejak sejak Perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang khususnya di Bandung,” lanjut Solichin.

Rekam jejak karya desainer interior sebelum dan di awal 1960-an tidak begitu banyak dicatat. Pertama, karena memang belum banyak profesional lulusan desain interior (atau dekoratif kala itu). Kedua, proyek-proyek yang dikerjakan pun jumlahnya terbatas pada rumah tinggal, toko, atau restoran kecil.

Pada awal 1960-an mulai dilibatkan beberapa mahasiswa desain interior tingkat akhir dalam proyek Pembangunan Gedung Conefo (sekarang gedung DPR-MPR RI). Sebagai arsitek lulusan T.H Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung) yang dididik langsung oleh Schoemaker, Sukarno sangat memperhatikan perkembangan desain dan hampir semua bangunan yang dibangun di masa pemerintahannya harus melalui persetujuannya.

Di era ini pula dilibatkan sejumlah arsitek asing seperti Abel Sorensen, arsitek berkebangsaan Amerika yang merancang Hotel Indonesia. Abel juga yang memperkenalkan desainer interior Dale Keller dari Amerika yang berkantor di Hongkong untuk mengerjakan desain interior hotel hasil rancangannya.

Dapat dikatakan Dale Keller adalah desainer interior asing yang mempelopori keterlibatan penuh desainer interior dalam proyek-proyek pembangunan hotel di Indonesia seperti Hotel Bali Beach, Samudra Beach, Ambarukmo, dan Hotel Borobudur.

Sebagai orang Barat yang tinggal di Timur, Dale sangat memahami konsep kearifan lokal sebagai identitas dan penciptaan sense of place bagi hotel-hotel di kawasan Asia. Tak heran bila karya-karya desain interiornya sering dijadikan acuan bagi para desainer interior Asia yang mendapat kesempatan mendesain interior hotel di wilayah Asia.

Akhir 1960-an barulah desainer interior indonesia dalam kelompok maupun perorangan mulai dilibatkan dalam proyek-proyek besar seperti Paviliun Indonesia pada EXPO 70 di Osaka, Jepang, yang dikerjakan oleh tim desain interior Dharma Karya SR-ITB yang dipimpin oleh Prof. Widagdo. Sebelumnya Studio ID milik Prof. Widagdo di Bandung juga dipercaya menangani desain interior Jakarta Hilton Executive Club dan interior hotel-hotel lain di Jakarta, Yogyakarya, dan Solo.

“Usaha penggalian jati diri melalui pendekatan dan konsep kearifan lokal pun muncul di kalangan desainer interior yang menangani proyek-proyek hotel, sementara desainer interior yang menangani komersial perkantoran masih mencari-cari bentuknya karena tidak terlalu menuntut ‘kearifan lokal’ dalam interior perkantoran,” imbuh Solichin.

Berkembangnya pariwisata menumbuhkan industri perhotelan. Para investor lokal kemudian menggandeng manajemen hotel internasional untuk mengelola hotel-hotel tersebut. Karena memakai manajemen internasional, standar internasionalpun diterapkan. Penataan ruang tidak cukup dilakukan secaa amatir, harus memakai desainer interior profesional. Saat itulah berkembanglah hotel-hotel internasional hasil karya arsitek dan interior asing di Indonesia.

Para arsitek dan desainr interior Indonesia yang cerdik berusaha memanfaatkan peraturan yang diperlakukan oleh pemerintah Indonesia bahwa arsitek atau desainer interior asing yang berpraktek di Indonesia harus memiliki partner lokal. Terjadilah transfer keahlian dan pengalaman dalam desain interior. Berbagai nama besar dalam dunia interior dalam proyek komersial dan hospitality seperti Howard Hirsch dari Hirsch & Bedner Associates, Wilson Associates dari Amerika Serikat.

Pada 1977 pemerintah Indonesia dimotori Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan mengadakan Loka Karya tentang desain di Jakarta yang diberi judul Desain Indonesia dengan mengundang beberapa tokoh desain dari dalam maupun luar negeri seperti Jepang, Filipina, dan Austria. Loka Karya selama seminggu tersebut menghasilkan kesadaran untuk mempersiapkan pembentukan ikatan atau asosiasi para desainer Indonesia dari berbagai cabang profesi desain.

Pada 1980 para desain interior di Jakarta dan Bandung mulai membicarakan pembentukan asosiasi desainer interior di Indonesia.Kegiatan memuncak di 1981 tatkala Solichin Gunawan, Ahadiat Joedawinata, Prof. Widagdo, dan Prof. Slamet Wirasondjaja (arsitek lansekap senior) berkesempatan bertemu dengan para tokoh desain global di Design Congress yang diadakan setiap enam tahun sekali yang diikuti oleh asosiasi anggota seperti IFI (International Federation of Interior Architects/Designers), ICSID (International Council of Society of Industrial Designers), dan ICOGRADA (International Council of Graphic Design Associations) yang sekarang bernama ICO-D.

Satu minggu berada di kalangan desainer dari berbagai negara di Helsinki dan sekitarnya, memuluskan jalan bagi asosiasi desainer interior Indonesia untuk bisa diterima sebagai anggota IFI. Baru pada 1983 diadakan kongres nasional pertama yang bertujuan untuk meresmikan HDII di Jakarta, dengan mengangkat Solichin Gunawan sebagai ketua umum untuk masa jabatan 1983-1985.

“Di 2018 ini kalangan desainer interior cukup bergembira karena semakin tingginya kesadaran dan kepedulian masyarakat akan peran desain interior. Ini terlihat dari banyaknya lembaga pendidikan desain interior yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia selain desain produk industri dan komunikasi visual,” ujar Lea.