Sejarah properti Indonesia tidak bisa bisa dilepaskan dari nama Ir. Ciputra. Arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1960 ini adalah ketua pertama dan pendiri Real Estate Indonesia (REI), yang dalam sebuah pidato sambutannya menekankan pentingnya peran swasta dalam membantu pemerintah menyediakan perumahan bagi rakyat. Kota satelit Bintaro dan kawasan elit Pondok Indah adalah gebrakan besarnya bagi perkembangan properti di Indonesia

Ciputra dikenal sebagai pelari semasa bersekolah di Gorontalo dan Manado. Bahkan ia dikirim ke PON ke-2 di Jakarta, mewakili Provinsi Sulawesi Utara. “Waktu di PON, saya hanya sampai final karena waktu itu saya masih merasa mabuk laut karena tidurnya di dek kapal dan makannya pun kurang berkualitas,” kenang Ciputra. Perjalanan kedua kalinya ke tanah Jawa adalah ketika ia diterima sebagai mahasiswa arsitektur di ITB. Bangunan-bangunan kolonial dan taman-taman indah benar-benar berkesan bagi dirinya yang memang sejak kecil ingin jadi arsitek.

Ciputra kembali ‘berlari’ di Bandung. Baru dua tahun kuliah, bersama dua orang rekannya, Indra Brasali dan Ismail Sofyan, ia membuka biro arsitek bernama CV Daya Tjipta. Bersama kedua sahabatnya ini pula Ciputra kemudian mendirikan Metropolitan Development yang menggarap Pondok Indah pada era 1970-1980 an.

Peran awal Ciputra pada wajah Jakarta adalah proyek pemugaran pasar Senen bersama dengan Pemprov Jakarta pada tahun 1960-an dan proyek Taman Impian Jaya Ancol yang dengan cepat jadi primadona baru warga Jakarta pada pertengahan 1980-an. Melalui (Pembangunan) Jaya, Ciputra juga membangun perumahan sederhana bernama Pondok Karya.

Visi tentang perlunya kota satelit bagi Jakarta sudah terbayang di benak Ciputra sejak lama. Baru pada tahun 1980 dimulai proyek Bintaro Jaya dibawah bendera PT. Jaya Real Property. Sebuah kota satelit yang dibangun bertahap, sektor demi sektor.

Sulit membayangkan bagaimana Ciputra membagi isi kepalanya. Karena pada awal 1980-an juga proyek kawasan perumahan mewah di Selatan Jakarta yang digarapnya laris manis. Kawasan itu adalah Pondok Indah. Di periode yang sama ia juga mendirikan perusahaan keluarga dengan nama PT. Citra Habitat Indonesia yang sekarang bernama Grup Ciputra. Melalui perusahaan ini, nama Ciputra semakin dikenal di masyarakat umum. Bahkan tidak sedikit orang yang tahu produk perumahan Ciputra, tapi tidak tahu jika Ciputra itu nama seseorang.

Masalah tentang perumahan rakyat sejak dulu selalu terkait dengan kondisi ekonomi masyarakat. “Saya bermimpi bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar dalam segalanya, terutama di bidang entrepreneurship. Keyakinan saya sangat besar bahwa entrepreneurship inilah yang menjadi jawaban atas masalah ketimpangan sosial dan ketidakmerataan ekonomi yang sedang dialami bangsa Indonesia,” ujar Ciputra berbagi visi.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ini pula, Ciputra setuju jika Ibukota Indonesia dipindahkan. “Pusat bisnis tetap di DKI Jakarta, sedangkan pusat pemerintahan baru perlu dirancang keberadaannya dan sebaiknya berada di luar Pulau Jawa. Mengenai berapa tahun lamanya pemindahan ini, menurut saya bisa secepatnya. Keberadaan pusat pemerintahan yang baru di luar Pulau Jawa juga bisa mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi,” tambah pria pengoleksi lukisan karya Hendra Gunawan ini.