Saat ini hampir semua aktivitas orang Indonesia dilakukan sambil duduk di kursi, sofa, atau tempat duduk lainnya. Padahal, budaya duduk belum lama diterima oleh masyarakat negeri ini. Selain dari buku sejarah dan antropologi, hal itu bisa kita runut dari sisi bahasa. “Bangsa kita bangsa lesehan,” kata Fabianus Koesoemadinata.

Saat meminta orang untuk duduk kita memakai kata silahkan atau sila (dalam bahasa Melayu), yang sebenarnya adalah meminta mereka untuk bersila. Bahasa kita juga tidak mengenal istilah alat untuk duduk tanpa bersila: kursi (dari bahasa Arab, kursiy), sofa, atau bangku (banque). Nenek moyang kita hanya mengenal amben untuk duduk yang berjarak dengan lantai, tapi itupun harus dilakukan dengan bersila.

Tak heran jika peralatan duduk yang kita kenal secara tradisional adalah tempat untuk bersila. Tengok saja bagaimana orang Dayak terkenal akan lampit, tikar rotan yang dianyam dengan motif dan identitas keluarga mereka. Atau di Sunda, Jawa Barat yang hingga kini masih dijumpai budaya lesehan pada restoran-restorannya.

Fabianus menunjukkan budaya duduk orang Jawa melalui cara duduk para pemain gamelan dan sinden pada pertunjukan. Semua personil duduk lesehan. Untuk meninggikan kedudukan mereka, untuk keperluan visual dan pertanda, mereka tidak diberikan kursi, melainkan dibuat sebuah platform yang lebih tinggi daripada lantai atau permukaan panggung.

Kursi dan semacamnya muncul belakangan ketika pedagang asing dan juga colonial Eropa datang. Mereka memperkenalkan kursi yang hanya boleh dipakai oleh para tuan dan bangsawan. Kalangan rakyat tetap harus bersila di lantai.

Ironisnya, meski merasa sudah menjadi orang paling terhormat dengan duduk di kursi atau singgasana, para bangsawan dalam foto-foto hitam putih itu terlihat aneh. Maklum, kursi itu dibuat dengan ergonomic tubuh orang Eropa yang tinggi besar. Kaki orang Asia saat itu pun menjuntai seperti anak kecil duduk di kursi dewasa. “Justru kita kerap melihat bagaimana leluhur kita duduk di kursi dalam posisi canggung dengan mengangkat kaki atau menggunakan tambahan dingklik pada kaki,” kata Solichin Gunawan, desainer interior.

Kebiasaan duduk di lantai atau lesehan bisa dilihat dari banyaknya penggunaan dingklik. Dingklik pada dasarnya mirip stool, hanya saja lebih rendah. Ini menunjukkan jika masyarakat lebih menyukai duduk rendah dekat dengan tanah, Budaya duduk lesehan di Indonesia mirip dengan budaya duduk di tatami orang Jepang. sebagian besar orang Jepang, di masa modern ini, masih melestarikan duduk di lantai. Alih-alih melupakan tradisi ini, mereka bahkan mendesain kursi khusus bagi bangsa mereka sendiri.

Bila kita melihat bagaimana Jepang tetap melestarikan budaya duduk di tatami dengan membuat kursi khusus, seharusnya kita juga mulai mengakui bahwa duduk di lantai jauh lebih dulu sebelum mengenal kursi dan ini menjadi peluang para desainer untuk menciptakan mebel yang sesuai dengan budaya duduk dibanding kita hanya berkutat pada desain-desain yang tidak berasal dari budaya.