Abie Abdillah adalah desainer muda yang desain dan namanya tengah menjadi sorotan di beberapa ajang pameran mebel saat ini. Sejak terjun ke dunia permebelan, Abie membawa brand-nya sendiri yang dibangun pada 2009, StudioHiji. Abie konsisten mengangkat rotan menjadi mebel berdesain muda dan modern. “Bagaimana rotan bisa mendunia jika di Indonesia sendiri rotan masih dianggap furniture murah, jadul, dan tidak berkelas? Anggapan itu salah besar. Dan itu tantangan bagi para desainer rotan untuk membuat karya berkualitas” ujar Abie saat wawancara dengan Home Living.

Salah satu cara untuk mengejar cita-cita itu, Abie banyak mengikuti event internasional seperti di Singapura, Hongkong, Korea Selatan, Guangzhou. Beberapa karyanya diganjar penghargaan. Ia misalnya mendapat Honourable Mention Winner di Singapore Furniture Design Award pada 2011, Rising Design Talents mewakili Indonesia di Maison Objet Asia 2015, dan untuk koleksi Cappelini di pamerkan di Capellini Point Milan 2016

“Saya juga terlibat di Pusat Inovasi Rotan Nasional di bawah Departemen Perindustrian. Di sini kami mengadakan berbagai program mulai dari workshop hingga mengundang desainer rotan untuk saling bertukar informasi, agar Indonesia ngeh kembali dengan rotan,” paparnya. Dan bersama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) karya Abie kerap tampil dalam ajang-ajang pameran di mancanegara bersama-sama dengan karya para desainer mebel lainnya.

Persinggungan Abie dengan rotan dimulai sejak kecil. Saat tinggal di Bandung, keluarganya memiliki satu set sofa rotan yang ketika dewasa ia sadari itu sebagai replika desain Isamu Kenmochi, desainer Jepang yang sangat terkenal masa itu. Saat kuliah di Teknik Industri Industri Teknologi Bandung, ketertarikan Abie akan rotan semakin terasah.

Apalagi setelah ia menjadi 'penyusup', ikut dalam rombongan mahasiswa Desain Interior ITB mengunjungi pabrik rotan di Cirebon. Sebagai mahasiswa Teknik Industri, seharusnya dia tidak bisa mengikuti kunjungan itu. Saat kunjungan itu, Yazuru Yamakawa, desainer dan pendiri PT Yamakawa Rattan berkata, “Desainer Indonesia bila ingin dihargai dunia, jadilah desainer rotan.” Kata-kata itulah yang terus membekas hingga kini.

Saat tugas akhir, Abie membuat Madu Stool, yang terinspirasi dari sarang lebah. “Di sini saya mencoba bereksperimen dengan rotan berdiameter kecil, karena rotan berdiameter kecil itu sangat lentur dan jarang digunakan di pasaran,” jelasnya. Selain itu juga terdapat Pretzel Bench dan Loop Lounge Chair. “Pada Loop Lounge Chair, saya mencoba menggabungkan rotan besar dan kecil untuk outdoor. Untuk memberi kesan ringan saya membuat anyaman yang bolong-bolong agar lentur dan kuat,” serunya.

Di usianya yang masih 30-an, karyanya telah masuk dalam jajaran koleksi Capellini, brand furnitur besar asal Milan. Di sana karyanya disandingkan dengan karya desainer besar dunia seperti Tom Dixon, A G Fronzoni, Antonio Facco, Todd Bracher, dan lain sebagainya “Ini bukan sekadar masuk dalam jajaran desain Capellini, tapi lebih kepada rotan Indonesia masuk dan di sejajarkan dengan mebel karya desainer dunia lainnya,” kata Abie. Sehingga bila Anda menengok website Capellini akan menjumpai Abie sejajar dengan para desainer top dunia tersebut.

Tak hanya rotan, Abie pun mendesain beberapa mebel yang terbuat dari kayu, misalnya Tripod Stool dan Goda Armchair. Ini merupakan bentuk eksplorasi Abie saat ia mencapai titik jenuh dalam mendesain. “Rotan tetap passion saya, tetapi saya tidak ingin jenuh maka saya mengeksplor material lain,” ungkapnya.