Bulan ini kami menerbitkan edisi Home Living ke-100. Tentu saja ini bukan perjalanan yang singkat. Seratus edisi, seratus purnama, dan kami masih bisa bertahan dengan edisi cetak meski digital terus menggempur. Karena itu, dalam rangka memperingati keistimewaan yang kami alami ini, edisi ke-100 kami buat menjadi sangat istimewa. Bukan sekadar edisi khusus, melainkan edisi yang bisa dikoleksi (collectible edition).

Tema yang kami pilih adalah The Journey. Kenapa? Karena ini adalah edisi perjalanan kami selama seratus bulan. Ini juga merupakan edisi yang mengupas perjalanan rumah di Indonesia, baik dari sisi arsitektural, desain interior, perumahan (properti), sanitari, taman (lanskap), furnitur, peralatan rumah tangga, pelapis lantai, dan lain sebagainya.

Dalam edisi ini kita bisa menikmati perjalanan rumah dan semua elemen-elemen tersebut hingga jauh ke belakang, ke setiap lekuk sejarahnya hingga saat ini. Untuk mengumpulkan informasi itu kami membaca berbagai buku (termasuk yang sudah tidak terbit lagi), membongkar arsip foto, bertemu dengan banyak orang penting, dan kemudian menuliskannya satu per satu.

Ada banyak hal menarik yang kami temukan. Misalnya tentang Raden Ajeng Kartini. Selama ini kita mengenal Kartini sebagai guru dan pejuang emansipasi wanita. Tapi, dari penelusuran ini kita bisa tahu bahwa Kartini punya peran besar dalam mebel Jepara yang ukirannya terkenal hingga saat ini. Bahkan bisa dikatakan, Kartinilah yang memodernkan ukiran Jepara. Surat menyuratnya (Habis Gelap Terbitlah Terang) juga ada hubungannya dengan soal mebel. Anda bisa membaca hal ini di The Journey of Furniture.

Nama yang selalu muncul di hampir semua seksi adalah Sukarno. Presiden Indonesia pertama ini tidak hanya punya peran dalam arsitektur (karena dia insinyur arsitek, seperti yang kita tahu). Jejaknya juga bisa diketahui lewat mebel, desain interior, lanskap, bahkan sanitari. Oleh karena itu, Sukarno bisa dikatakan sebagai Pencipta Wajah Indonesia.

Dari sini kita juga bisa melihat bahwa perkembangan arsitektur dan desain, tidak bisa dilepaskan dari kondisi politik, sosial, dan ekonomi. Kompleks perumahan pertama (Nieuw Gondangdia, kini Menteng),  muncul karena Perang Dunia I membuat orang Eropa banyak datang ke Hindia Belanda; Keinginan Sukarno untuk menentang gaya Belanda memunculkan arsitektur dan desain jengki pada 1960-an;  Booming minyak pada 1980-an justru memunculkan kebekuan dalam desain; Digital dan milenial memarakkan rumah-rumah yang praktis dan compact. Setiap rumah berbicara tentang masanya. Itulah mengapa catatan ini penting, karena dari melihat jejak desain rumah kita tahu apa yang terjadi di masa itu.

Tentu saja, ini bukanlah catatan akademis. Ini tetap sebuah karya jurnalistik yang ditujukan kepada pecinta arsitektur dan desain interior. Artinya, kami tidak mendesain edisi ini sebagai sebuah jurnal akademis yang amat dalam dan teknis. Meski demikian, kami mengupayakan kelengkapan dan kesahihan informasinya.